“Masuk
dan Berkembangnya Agama Hindu di Indonesia”
MAKALAH
Diajukan
untuk memenuhi tugas mata kuliah
Agama
Hindu

Dosen
pengampu:
Drs.
Zainul Arifin, M.Ag
195602021990031001
Oleh
Rufaidah E52211032
Ruwaidah E52211033
Saidatur
Rohmah E72211038
JURUSAN
PERBANDINGAN AGAMA
FAKULTAS
USHULUDDIN
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA
2013
Kata Pengantar
Puji dan syukur dengan tulus kami
haturkan kehadirat Allah swt karena berkat rahmat, taufik dan hidayah-Nya, makalah ini dapat kami
buat serta dapat hadir ditengah-tengah pembaca yang
budiman.
Shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada
junjungan kita Nabi besar Muhammad saw beserta keluarga, para sahabatnya hingga akhir zaman, dengan diiringi
upaya meneladani akhlaknya yang mulia. Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas
mata kuliah Agama Hindu. Kami juga sangat berterima kasih
kepada bapak Drs. Zainul Arifin, M.Ag selaku dosen agama Hindu
yang telah tekun dan sabar dalam membimbing
kami.
Sehingga kami bisa menyelesaikan makalah ini walaupun masih banyak mengandung kekurangan serta jauh dari kesempurnaan. Kami
juga sangat mengharapkan kritik
serta saran dari pembaca guna penyempurnaan makalah ini, akan disambut dengan senang hati.
Surabaya, 03 Mei 2013
Pemakalah
Daftar
Isi
Halaman
Sampul........................................................................................................................1
Kata
pengantar............................................................................................................................2
Daftar
Isi.....................................................................................................................................3
BAB I Pendahuluan....................................................................................................................4
1.1 Latar
Belakang.....................................................................................................................4
1.2 Rumusan
Masalah................................................................................................................4
1.3
Tujuan...................................................................................................................................5
BAB II
Pembahasan...................................................................................................................6
2.1 Masuknya Agama Hindu di Indonesia.................................................................................6
2.2 Perkembangan Agama Hindu di
Indonesia..........................................................................8
BAB III
Penutup.......................................................................................................................15
3.1 Kesimpulan.........................................................................................................................15
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Agama Hindu adalah agama yang berasal dari India.
Mengenai penyebutan Hindu sendiri itu berasal dari penyebutan bangsa Persia
terhadap sungai yang mengairi daerah barat India yaitu sungai Sindbu. Dan
ketika agama Islam datang ke India nama yang diberikan orang Persia itu muncul
kembali dengan istilah Hindustan, sedangkan bagi penduduk yang masih
memeluk agama India asli dikenal dengan nama orang Hindu.
Berdasarkan beberapa pendapat, diperkirakan bahwa
Agama Hindu pertama kalinya berkembang di Lembah Sungai Shindu di India.
Dilembah sungai inilah para Resi
menerima wahyu dari Hyang Widhi dan diabadikan dalam bentuk Kitab Suci Weda.
Dari lembah sungai sindhu, ajaran Agama Hindu menyebar ke seluruh pelosok
dunia, yaitu ke India Belakang, Asia Tengah, Tiongkok, Jepang dan akhirnya
sampai ke Indonesia. Ada beberapa teori dan pendapat tentang masuknya Agama
Hindu ke Indonesia.
Prasasti-prasasti yang berasal dari abad ke-4 hingga
abad ke-7 yang merupakan peninggalan kerajaan Kutai di Kalimantan Utara ini
bisa dijadikan salah satu bukti bahwa agama Hindu sudah ada sejak abad
tersebut.
Perkembangan agama Hindu di Indonesia pun sangat
pesat terbukti dengan bermunculannya kerajaan yang bernafas agama Hindu. Mulai dari
kerajaan Kutai di Kalimantan, kerajaan Hindu di Jawa Barat, kerajaan Hindu di
Jawa Tengah, kerajaan Hindu di Jawa Timur, dan kerajaan Hindu di Bali. Agama
Hindu mampu berkembang dengan pesat karena tak menghapus budaya asli Nusantara tetapi
justru menjiwai sistem budaya yang telah ada, sehingga mencerminkan nilai
kebenaran, kebajikan dan keindahan (Sathyam, Sivam, Sundaram).
1.2. Rumusan
Masalah
1. Kapan agama Hindu masuk ke Indonesia?
2. Bukti masuknya agama Hindu ke Indonesia?
3. Siapa yang membawa agama Hindu ke
Indonesia?
4. Perkembangan agama Hindu di Indonesia?
1.2.
Tujuan
1. Mengetahui kapan agama Hindu
masuk ke Indonesia.
2. Mendapatkan bukti
masuknya agama Hindu ke Indonesia.
3. Mengetahui siapakah yang membawa agama
Hindu ke Indonesia.
4. Memahami bagaimana perkembangan agama
Hindu di Indonesia.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1
Masuknya
Agama Hindu di Indonesia
Masuknya agama Hindu ke Indonesia
terjadi pada awal tahun Masehi, ini dapat diketahui dengan adanya bukti
tertulis atau benda-benda purbakala pada abad ke 4 Masehi denngan
diketemukannya tujuh buah Yupa peningalan kerajaan Kutai di Kalimantan Timur.
Dari tujuh buah Yupa itu didapatkan keterangan mengenai kehidupan keagamaan
pada waktu itu yang menyatakan bahwa: "Yupa itu didirikan untuk
memperingati dan melaksanakan yadnya oleh Mulawarman". Keterangan yang
lain menyebutkan bahwa raja Mulawarman melakukan yadnya pada suatu tempat suci
untuk memuja dewa Siwa. Tempat itu disebut dengan "Vaprakeswara".
Berikut ini beberapa teori dan
pendapat mengenai masuknya agama Hindu di Indonesia:
a.
Krom (ahli - Belanda), dengan teori Waisya. Dalam
bukunya yang berjudul "Hindu Javanesche Geschiedenis", menyebutkan
bahwa masuknya pengaruh Hindu ke Indonesia adalah melalui penyusupan dengan
jalan damai yang dilakukan oleh golongan pedagang (waisya) India.
b.
Mookerjee (ahli - India tahun 1912). Menyatakan
bahwa masuknya pengaruh Hindu dari India ke Indonesia dibawa oleh para pedagang
India dengan armada yang besar. Setelah sampai di Pulau Jawa (Indonesia) mereka
mendirikan koloni dan membangun kota-kota sebagai tempat untuk memajukan
usahanya. Dari tempat inilah mereka sering mengadakan hubungan dengan India.
Kontak yang berlangsung sangat lama ini, maka terjadi penyebaran agama Hindu di
Indonesia.
c.
Moens dan Bosch (ahli - Belanda). Menyatakan bahwa
peranan kaum Ksatrya sangat besar pengaruhnya terhadap penyebaran agama Hindu
dari India ke Indonesia. Demikian pula pengaruh kebudayaan Hindu yang dibawa
oleh para para rohaniwan Hindu India ke Indonesia.
Dalam
data peninggalan sejarah disebutkan Resi Agastya adalah orang yang menyebarkan agama Hindu dari India ke
Indonesia. Data ini ditemukan pada beberapa prasasti di Jawa dan lontar-lontar
di Bali, yang menyatakan bahwa Sri Agastya menyebarkan agama Hindu dari India
ke Indonesia, melalui sungai Gangga, Yamuna, India Selatan dan India Belakang.
Oleh karena begitu besar jasa Rsi Agastya dalam penyebaran agama Hindu, maka
namanya disucikan dalam prasasti-prasasti seperti:
-
Prasasti Dinoyo (Jawa Timur): Prasasti ini bertahun
Caka 628, dimana seorang raja yang bernama Gajahmada membuat pura suci untuk Resi Agastya, dengan maksud memohon kekuatan suci dari
Beliau.
-
Prasasti Porong (Jawa Tengah): Prasasti yang
bertahun Caka 785, juga menyebutkan keagungan dan kemuliaan Rsi Agastya.
Mengingat kemuliaan Rsi Agastya, maka banyak istilah yang diberikan kepada
beliau, diantaranya adalah: Agastya Yatra, artinya perjalanan suci Rsi Agastya
yang tidak mengenal kembali dalam pengabdiannya untuk Dharma. Pita Segara,
artinya bapak dari lautan, karena mengarungi lautan-lautan luas demi untuk
Dharma.
Dari prasasti-prasasti itu didapatkan keterangan yang menyebutkan bahwa
"Raja Purnawarman adalah Raja Tarumanegara beragama Hindu, Beliau adalah
raja yang gagah berani dan lukisan tapak kakinya disamakan dengan tapak kaki dewa Wisnu.
Masuknya
agama Hindu ke Indonesia, menimbulkan pembaharuan yang besar, misalnya
berakhirnya jaman prasejarah Indonesia, perubahan dari religi kuno ke dalam
kehidupan beragama yang memuja Tuhan Yang Maha Esa dengan kitab Suci Veda dan
juga munculnya kerajaan yang mengatur kehidupan suatu wilayah. Disamping di
Kutai (Kalimantan Timur), agama Hindu juga berkembang di Jawa Barat mulai abad
ke-5 dengan diketemukannya tujuh buah prasasti, yakni prasasti Ciaruteun,
Kebonkopi, Jambu, Pasir Awi, Muara Cianten, Tugu dan Lebak. Semua prasasti
tersebut berbahasa Sansekerta dan memakai huruf Pallawa.
Agama Hindu di
Indonesia tidak hanya berkembang di kalangan raja tapi juga dikalangan rakyat.
Hal ini dibuktikan dengan banyaknya candi-candi Siwa yang tersebar hingga ke
pelosok-pelosok daerah. Walaupun begitu sumber-sumber mengenai agama Hindu di
Indonesia ini lebih sedikit dari agama Buddha. Sumber-sumber yang bisa
dijadikan informasi yang ada hanya prasasti-prasasti dan candi-candi, misalnya
prasasti dari Canggal, Ratu Baka dan Dinaya.
Kultus lingga (simol kelamin
laki-laki) bentuk pemujaan kepada Siwa ini dihubungkan dengan jabatan raja
suatu dinasti yang memerintah. Begitu juga kultus Agastya (penyebar agama Siwa
di India Selatan) ini juga tersebar luas. Untuk candi-candi yang patut mendapat
perhatian adalah candi Prambanan, yang biasanya disebut dengan Candi
Lara Jonggrang. Candi yang didirikan pada pertengahan abad ke-9 ketika
kerajaan Mataram berkuasa di Jawa Tengah. Candi Lara Jonggrang ini
menggambarkan Mahameru, sebuah gunung tempat kediaman dewa yang
sekaligus dipakai untuk pemakaman raja yang dipandang sebagai titisan Siwa.
Pada akhir abad ke-10 tepatnya pada
tahun 929 kerajaan Hindu di Jawa Tengah mulai berpindah ke Jawa Timur,
penyebabnya tak diketahui secara pasti. Kerajaan Hindu di Jawa Timur dimulai
pada tahun 929 hingga awal abad ke-16. [1]
2.2
Perkembangan Agama Hindu di Indonesia
Penyebaran Hindu di Nusantara melalui proses
komunikasi dan pengenalan. Agama Hindu cepat berkembang di negeri ini karena
adanya persamaan unsur-unsur kesamaan antara agama Hindu dengan kepercayaan
asli, misalnya:
1. Agama Hindu menuju Brahman dan para
dewa, sedangkan kepercayaan nenek moyang kita memuja para roh leluhur;
2. Tempat pemujaan agama Hindu berupa
lingga, candi, dan arca, sedangkan tempat pemujaan nenek moyang kita berupa
menhir, punden berundak, tahta batu, dan patung;
3. Upacara agama Hindu dipimpin oleh kaum
Brahmana, sedangkan upacara nenek moyang kita dipimpin oleh dukun.
Untuk memahami perkembangan agama Hindu pada
tahap-tahap awal di Nusantara, ada dua sumber yang dapat dijadikan acuan, yaitu
prasasti dan bangunan suci. Karena kedua bukti sejarah tersebut senantiasa
berkaitan dengan raja dan kerajaan, maka sejarah perkembangan agama Hindu di
Nusantara tidak dapat lepas dari sejarah kerajaan Hindu. Sampai pada saat ini,
prasasti pertama yang berkaitan dengan kerajaan Hindu ditemukan dalam bentuk
Yupa (memakai huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta) di Kutai, kalimantan timur.
Prasasti yang diperkirakan dibuat pada awal abad ke-5 tersebut, memuat silsilah
raja-raja pertama Kutai beserta upacara Yadnya yang pernah dilakukan
oleh Raja Mulawarman. Di Jawa Barat juga ditemukan sejumlah prasasti yang
diperkirakan juga dibuat pada abad kelima sebagai peninggalan Raja Purnawarman.
Dari prasasti-prasasti itu diketahui bahwa Sang Raja adalah penganut Hindu. Pada
abad yang sama, di Lampung berdiri kerajaan Hindu yang bernama Tulang Bawang,
dan dua abad berikutnya di Jambi berdiri kerajaan melayu. Kedua kerajaan
tersebut, pada akhir abad ketujuh dikalahkan oleh kerajaan Sriwijaya yang
beragama Budha.
Menurut sumber-sumber Cina, pada tahun 674 M pulau
Jawa diperintah oleh sang raja perempuan yang bernama Sima. Ratu ini
sangat tegas dalam melaksanakan hukum, sehingga negerinya menjadi aman.
Barang-barang yang tercecer dijalan tidak ada yang berani memungut, kecuali pemiliknya.
Jika ada yang mengambil milik orang lain, maka akan dihukum penggal.
Semua prasati ditemukan di Kalimantan Timur dan Jawa
Barat tidak menunjukkan angka tahun yang pasti. Prasasti pertama berangka tahun
adalah prasasti Canggal yang memakai tahun Candra Sangkala “Sruti Indria
Rasa”, artinya tahun 654 Saka atau 732 M. Berdasarkan prasasti Canggal dan
sejumlah prasasti yang ditemukan di sekitar Yogyakarta, Magelang, dan Kedu,
dapat disimpulkan bahwa antara tahun 732-929 M di Jawa Tengah berdiri kerajaan
Hindu yang bernama kerajaan Mataram, dengan ibu kota kerajaan bernama Medang.
Prasasti-prasasti tersebut menyebut dewa-dewa Tri Murti, dengan dewa Syiwa sebagai dewa paling utama. Dengan
demikian, Hinduisme yang paling menonjol disana adalah sekte Siwa. Bukti lain
yang menunjukkan bahwa dewa Siwa dipuja sebagai dewa yang paling utama adalah
Candi Prambanan pada pemerintahan Rakai Pikatan dan permaisurinya
Pramodhawardhani yang menempatkan candi Siwa sebagai pusat. Yang menarik dari
pasangan raja dan ratu ini, Rakai Pikatan mendirikan candi-candi Hindu,
sedangkan Pramodhawardhani mendirikan candi-candi Budha.
Pengaruh agama Hindu yang pertama di Jawa Timur
ditemukan pada prasasti Dinoyo, dekat kota Malang berangka tahun 760 M.
Prasasti ini memakai huruf Jawa Kuno berbahasa Sansekerta, menceritakan
keberadaan kerajaan Kanjuruhan yang diperintah oleh Dewa Simha. Beliau
tergolong raja yang sangat bijaksana, dan pemuja dewa Siwa. Raja ini mendirikan
Candi Badut yang didalamnya ada patung Lingga dan patung Puntikesvara (untuk
menghormati Maharsi Agastya yang selalu digambarkan sebagai Siwa dalam wujudnya
sebagai Mahguru). Kerajaan Kanjuruhan selanjutnya disatukan oleh Mataram pada
zaman pemerintahan Rakai Balitung. Pada tahun 929, Mpu Sindok memindahkan pusat
kerajaan Mataram Jawa Tengah Ke Tawlang (Jawa Timur, Jombang) dan mendirikan
Dinasti Isana.
Mpu Sindok tergolong umat Hindu yang taat dan
mempunyai toleransi yang tinggi terhadap perkembangan agama Budha. Putrinya
sendiri kawin dengan Lokapala yang beragama Budha. Pada masa pemerintahan Mpu
Sindok berhasil disusun kitab-kitab agama-agama Hindu meliputi Buana Kosa,
Buana Sanksep, Vrhraspati Tattva, sedangkan untuk agama Budha adalah Sang
Hyang Kamahayanika. Berikutnya pada masa pemerintahan Darmawangsa Teguh (991-1016)
disusun kitab hukum Purwadigama (bersumber pada Manava Dharmasastra) dan
Siwasesana. Pada zaman itu juga dilakukan penterjemahan kitab Mahabarata dan
Ramayana dari bahasa Sangsekerta ke bahasa Jawa. Tim terjemahnya dipimpin oleh
Raja Dharmawangsa. Airlangga (1019-1042 M) melanjutkan Dinasti Isana sebagai
pelindung agama Hindu dan Budha pada zaman pemerintahannya berhasil disusun
kitab Arjuna Wiwaha Mpu Kanva (1030 M). Airlangga beragama Hindu sekte Visnu.
Setelah membagi kerajaan menjadi dua, yaitu Jenggal dan Kediri, dan menyerahkan
kepada kedua putranya, Airlangga lengser keprabon mandeg pandito, menjadi
seorang pertapa dengan nama Rsi Gentayu.
Kediri selanjutnya berkembang menjadi besar dan
berpengaruh. Agama yang dianut adalah agama Hidu sekte Visnu. Pada pemerintahan
Jayawarsa (raja pertama) berhasil dibuat kekawin Ramayana. Pada pemerintahan
Kameswara (1115-1130) disusun kekawin Samaranda oleh Mpu Darmaja. Pada
pemerintahan Jayabaya (1130-1160) berhasil digubah kekawin Bharata Yudha oleh
Mpu Sedah dan Panulu; Kisnayana, Hariwangsa, dan Gatotkacasraya oleh Mpu
Panuluh; Lubdaka oleh Mpu Tanakung; dan Bhoma Kavya oleh Monaguna. Raja
Jayabaya tergolong raja yang pandai meramal, yang sampai sekarang masih
dipercaya. Kerajaan Kediri mengalami kehancuran pada masa pemerintahan
Kertanegara (1200-1222) karena diserang oleh Ken Arok (pendiri kerajaan
Singosari).
Bersamaan dengan pemerintahan Airlangga di Jawa
Timur. Di Jawa Barat terdapat kerajaan Parahyangan Sunda. Rajanya bernama Sri
Jayabhupati Jayamahen Wisnumurti, beragama Hindu sekte Vaisnava. Tidak
ada keterangan apakah kerajaan ini merupakan keanjutan dinasti Tarumanegara
atau tidak. Prasasti yang ditinggalkan hanya menyampaikan tentang pemujaan
kepada Sang Hyang Bapak.
Pada zaman kerajaan Singosari, banyak didirikan
candi-candi untuk pemujaan arwah-arwah raja yang sudah wafat. Yang cukup
menarik, raja-raja tersebut dibuatkan dua candi (candi Hindu dan candi Buddha).
Sebagai contoh, Ken Arok, yang bergelar Sri Rajasa Sang Amurwabhumi dibuatkan
candi Kagenangan (dipuja sebagai titisan Siwa) dan candi Usana (dipuja sebagai
Buddha). Berbeda dengan raja-raja sebelumnya, raja terakhir Singosari yaitu
Kertanegara menganut agama Buddha Mahayana aliran Kalacakra. Luluhnya
ajaran Hindu dan Buddha mencapai puncaknya pada masa kerajaan Majapahit (1293-1528).
Kehidupan beragama berlangsung rukun dan damai antara golongan Siawa, Visnu,
dan Buddha. Untuk menjalankan pemerintahan, raja didampingi oleh dua orang
Dharmadyaksa, yaitu Dharmadyaksa ring Kasotan(mengurusi agama Buddha)
dan Dharmadyaksa ring Kasaivan(mengurus agama Hindu). Pada masa
pemerintahan raja Hayam Wuruk pernah dilakukan upacara Srada Agung yang
bertujuan untuk melepaskan roh-roh orang yang telah meninggal dari segala
ikatan keduniawian, sehingga bisa menyatu kembali dengan asalnya. Sebagai
lambang Jasmaniah, dibuatkan sebuah boneka dari dedaunan yang disebut puspa
sarira. Puspa sarira selanjutnya dibakar dan abunya dibuang ke laut. Hal
ini mirip dengan upacara pangabenan di Bali.
Kemakmuran dan ketentraman Majapahit memberikan
peluang berkembangnya kebudayaan, yang diwujudkan dalam bentuk candi atau karya
sastra dan produk perundang-undangan. Peninggalan candi zaman Majapahit,
meliputi candi Simping, candi Penataran, dan candi Rimbi. Karya sastranya meliputi:
1. Negara Kertagama, karya Mpu Prapanca,
tentang keluarga kerajaan dan kondisi masyarakat;
2. Sutasoma, karya Mpu Tantular yang
didalamnya memuat keserasian hubungan antara Hindu-Buddha lewat sesanti Bhineka
Tunggal Ika, tan hana dharma mangrwa;
3. Arjuna Wiwaha, didalamnya memuat ajaran
kepemimpinan Panca Stiti Dharmeng Prabhu, tantu Pagelaran, Calon Arang,
Bubuksah, Sundayana, Rangga Lawe, dan lainnya.
Dua kitab yang berhasil disusun adalah kitab Kutaramanawa yang dibuat oleh
Gajah Mada, mengacu pada Manadharmasastra disesuaikan dengan hukum adat yang
sudah ada dan kitab Pratiguna yang mengatur tentang pertanian dan pemanfaatan
tanah.
Setelah Gajah Mada dan Hayam Wuruk wafat, kerajaan
Majapahit mengalami kemunduran. Sebab-sebab kemunduran Majapahit adalah:
1. Tidak adanya kaderisasi kepemipinan,
sehingga tidak ada yang mampu mnggantikan kedudukan Gajah Mada
2. Perpecahan keluarga disusul dengan
terjadinya perang Paregreg.
3. Masuknya agama Islam.
Pada masa kejayaan Majapahit, Islam telah berkembang
pesat di daerah pesisir, seperti Tuban, Gresik, Jepara, Deemak, dan lainnya.
Setelah Majapahit lemah bandar-bandar Islam menyerbu Majapahit dibawah pimpinan
Raden Patah (Sultan Demak). Majapahitpun runtuh, disusul dengan keruntuhan
kerajaan Hindu lainnya, seperti kerajaan Pajajaran ditaklukkan oleh Kesultanan
Banten, sedangkan Blambangan diserbu oleh Sultan Agung, keruntuhan-keruntuhan
kerajaan Hindu di Jawa, disusul dengan terjadinya Islamisasi. Umat Hindu pun
bergeser dari golongan mayoritas menjadi minoritas.
Keruntuhan kerajaan Majapahit, yang disusul dengan
transformasi agama rakyat dari Hindu menjadi Islam secara umum memang
berlangsung cukup mudah, karena pada zaman itu agama rakyat bergantung pada
agama raja,”agama ageming aji”. Akan tetapi, banyak pula orang-orang
Majapahit menolak masuk Islam, sehingga mereka terpaksa menyingkir ke Pasuruan,
Penarukan, dan Bali. Sementara itu, orang-orang di Pedalaman masih tetap
mempertahankan Hindu. Hal yang sama juga dialami oleh orang-orang Pajajaran
yang tidak mau masuk Islam, mereka menyingkir ke daerah Pedalaman. Diantara
kelompok masyarakat itu sekarang dikenal dengan orang Badui (di Banten
Selatan).
Diantara orang-orang yang meninggalkan Majapahit
menuju Bali adalah seorang pendeta bernama Dang Hyang Niratha. Di Bali, ia
dijuluki dengan pedanda Sakti Wawu Rawuh, di Lombok dijuluki dengan Tuan
Semeru, dan di Sumbawa dijuluki dengan Pangeran Sangupati. Pendeta lain yang
datang ke Bali adalah Dang Hyang Astapaka. Ia adalah seorang pendeta Buddha.
Kedua pendeta tersebut selanjutnya diangkat menjadi pendeta istana di kerajaan
Gelgel oleh Raja Dalem Waturenggong.
Setelah zaman Waturenggong, perkembangan agama Hindu
di Bali tampaknya tidak mengalami perubahan yang berarti. Apalagi setelah
pemerintahan Sri Aji Dewa Agung Gede (1825-1870) yang sangat lemah, yang
memberi peluang beberapa punggawa daerah untuk melepaskan diri dan membentuk
kerajaan-keajaankecil. Kedatangan Belanda ikut memperkeruh sistem
kemasyarakatan, sehingga catur wangsa semakin kuatmenjadi kasta ala
Bali.sementaraitu, agama yang dianut orang-orang Bali pada zaman Belanda
disebut agama Tirta. Pada tahun 1939 di Klungkung berdiri organisasi keagamaan
bernama Tri Murti sedangkan di Singaraja berdiri perkumpulan Bali Dharma
Laksana. Organisasi-organisasi tersebut bermaksud memperbaiki pelaksanaan agama
melalui penerbitan buku-buku, untuk meningkatkan kualitas umat. Pada zaman
Jepang didirikan Paruman Pandita Dharma yang bertujuan untuk mempersatukan
berbagai paham keagamaan yang twrdapat di Bali. Pada waktu itu agama dianut
oleh masyarakat Bali adalah agama Siwa Raditya atau agama Sang Hyang
Surya (sesuai dengan dewa yang dipuja masyrakat Jepang).
Pada awal kemerdekaan, di Bali berdiri berbagai
organisasi keagamaan yang bertujuan untuk memperjuangkan kedusukan agama Hindu
agar disejajarkan kedudukannya dengan agama-agama lain di Indonesia. Pada tahun
1958 agama Hindu mendapat pangakuan resmi dari pemerintah. Setahun kemudian
bediri Parisadha Dharma Hindu Bali, yang selanjutnya pada tahun 1964 diganti
dengan Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI).
Pemaknaan sejarah
·
Sisi
Terang
a. Masuknya agama Hindu ke wilayah
Nusantara disambut dengan hangat, karena tidak mengubah budaya asli dengan
budaya India, serta tidak meninggalkan bentuk keyakinan yang sudah ada. Keadaan
memungkinkan karena agama Hindu dengan tiga kerangka agamanya(filsafat, etika,
dan ritual) memberikan tempat yang layak bagi berbagai bentuk keyakinan dan
kelonggaran bagi umatnya untuk melaksanakan upacara keagamaan sesuai denga desa
kala patra(tempat, waktu, dan keadaan).
b. Ajaran-ajaran agama, termasuk produk
perundang-undangan, tidak berpihak langsung dari sumber asli, tetapi disesuaikan
dengan kondisi setempat. Dalam hal ini, substansinya dipertahankan, kemasannya
disesuaikan.
c. Hubungan antar pemeluk agama berlangsung
damai dan penuh semangat toleransi. Mereka mengakui pluralisme keberagamaan dan
keesaan akan kebenaran, sebagai suatu bentuk tantularisme.
d. Dalam hal kepemimpinan negara, sejarah
Hindu mewariskan budaya lengser keprabon mandeg pandita, sebagaimana
yang dicontohkan oleh Prabu Airlangga, serta tida membedakan jender untuk
memegang tampuk pimpinan tertinggi. Bahkan Hindu mendudukkan beberapa orang
ratu yang terkenal arif dan bijaksana, misalnya Ratu Sima dan Tri Bhuana Tungga
Dewi.
e. Telah dilakukan penerjemahan kitab-kitab
Itihasa (Maha Brata dan Ramayana) yang dapat dijadikan pedoman tingkah
laku untuk hidup bermasyarakat, bernegara, dan beragama. Itihasa juga merupakan
prasyarat yang harus dipahami sebelum mendala Veda.
f. Umat Hindu telah memformulasi
kesetiaannya terhadap agama dan negara dalam bentuk paham Dharma Agama dan
Dharma Negara (Piagama Tjampuan)
·
Sisi
Gelap
a. Perkembangan Agama Hindu selalu
dikaitkan dengan negara (kerajaan). Akibatnya, umat Hindu kurang mampu mandiri pada
saat kerajaan tersebut runtuh, maka agama Hindu pun ikut runtuh. Hal ini juga
disebabkan kurangnya pembinaan terhadap umatnya.
b. Pengaruh adat dan kepentingan kekuasaan
sangat terasa terhadap perkembangan agama Hindu. Akibatnya, terjadi
penyelewengan terhadap pelakasanaan ajaran-ajaran agama. Sebagai contoh: catur
warna begeser menjadi catur wangsa.
c. Umat Hindu lebih menunjukkan sikap
toleransi terhadap agama lain dibandingkan dala kelompoknya sendiri. Hal ini
tampaknya diwarisi sampai sekarang.
d. Pelaksanaan Hindu di Indonesia lebih
menonjolkan ritual dan pembangunan sarana fisik peribadatan dibandingkan
pengetahuan keagamaan atau spiritual. Keadaan ini menjadi salah satu sebab
mudahnya umat Hindu meninggalkan agamanya.[2]
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Agama Hindu masuk ke Indonesia
dengan dibawa oleh Resi Agastya, orang India yang membawa agamanya ke
Indonesia. Data ini ditemukan pada beberapa prasasti di Jawa dan lontar-lontar
di Bali, yang menyatakan bahwa Sri Agastya menyebarkan agama Hindu dari India
ke Indonesia, melalui sungai Gangga, Yamuna, India Selatan dan India Belakang.
Oleh karena begitu besar jasa Rsi Agastya dalam penyebaran agama Hindu, maka
namanya disucikan dalam prasasti-prasasti seperti: Prasasti Dinoyo (Jawa Timur)
dan Prasasti Porong (Jawa Tengah).
Perkembangan agama Hindu di
Indonesia pun sangat pesat terbukti dengan bermunculannya kerajaan yang
bernafas agama Hindu. Mulai dari kerajaan Kutai di Kalimantan, kerajaan Hindu
di Jawa Barat, kerajaan Hindu di Jawa Tengah, kerajaan Hindu di Jawa Timur, dan
kerajaan Hindu di Bali. Agama Hindu mampu berkembang dengan pesat karena tak menghapus
budaya asli Nusantara tetapi justru menjiwai sistem budaya yang telah ada,
sehingga mencerminkan nilai kebenaran, kebajikan dan keindahan (Sathyam,
Sivam, Sundaram).
[1] Harun Hadiwijono,
Agama Hindu dan Buddha (Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 2001), 109,
114-120, 124; http://kmhd.lk.ipb.ac.id/2010/11/06/sejarah-agama-hindu-di-indonesia/
diakses pada 04 April 2013 jam 22:43; http://www.parisada.org/index.php?option=com_content&task=view&id=37&Itemid=29 diakses pada 05 April
2013 jam 10:50.
[2] Dr. H. Moch.
Qasim Mathar, M.a, Sejarah, Teologi, dan Etika Agama-Agama, (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar,2003), 6-16
Tidak ada komentar:
Posting Komentar