Rabu, 03 Juli 2013

masuk dan berkembangnya agama Hindu di Indonesia



“Masuk dan Berkembangnya Agama Hindu di Indonesia”

MAKALAH
Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah
Agama Hindu
Dosen pengampu:
Drs. Zainul Arifin, M.Ag
195602021990031001
Oleh
Rufaidah                                             E52211032
Ruwaidah                                            E52211033
Saidatur Rohmah                                E72211038

JURUSAN PERBANDINGAN AGAMA
FAKULTAS USHULUDDIN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA
2013
Kata Pengantar

              Puji dan syukur dengan tulus kami haturkan kehadirat Allah swt karena berkat rahmat, taufik dan hidayah-Nya, makalah ini dapat kami buat serta dapat hadir ditengah-tengah pembaca yang budiman.
            Shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad saw beserta keluarga, para sahabatnya hingga akhir zaman, dengan diiringi upaya meneladani akhlaknya yang mulia. Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Agama Hindu. Kami juga sangat berterima kasih kepada bapak Drs. Zainul Arifin, M.Ag selaku dosen agama Hindu yang telah tekun dan sabar dalam membimbing kami. Sehingga kami bisa menyelesaikan makalah ini walaupun masih banyak mengandung kekurangan serta jauh dari kesempurnaan. Kami juga sangat mengharapkan kritik serta saran dari pembaca guna penyempurnaan makalah ini, akan disambut dengan senang hati.







Surabaya, 03 Mei 2013

Pemakalah



Daftar Isi

Halaman Sampul........................................................................................................................1
Kata pengantar............................................................................................................................2
Daftar Isi.....................................................................................................................................3
BAB I Pendahuluan....................................................................................................................4
1.1 Latar Belakang.....................................................................................................................4
1.2 Rumusan Masalah................................................................................................................4
1.3 Tujuan...................................................................................................................................5
BAB II Pembahasan...................................................................................................................6
2.1 Masuknya Agama Hindu di Indonesia.................................................................................6
2.2 Perkembangan Agama Hindu di Indonesia..........................................................................8
BAB III Penutup.......................................................................................................................15
3.1 Kesimpulan.........................................................................................................................15








BAB I
PENDAHULUAN

1.1.  Latar Belakang
Agama Hindu adalah agama yang berasal dari India. Mengenai penyebutan Hindu sendiri itu berasal dari penyebutan bangsa Persia terhadap sungai yang mengairi daerah barat India yaitu sungai Sindbu. Dan ketika agama Islam datang ke India nama yang diberikan orang Persia itu muncul kembali dengan istilah Hindustan, sedangkan bagi penduduk yang masih memeluk agama India asli dikenal dengan nama orang Hindu.
Berdasarkan beberapa pendapat, diperkirakan bahwa Agama Hindu pertama kalinya berkembang di Lembah Sungai Shindu di India. Dilembah sungai inilah para Resi menerima wahyu dari Hyang Widhi dan diabadikan dalam bentuk Kitab Suci Weda. Dari lembah sungai sindhu, ajaran Agama Hindu menyebar ke seluruh pelosok dunia, yaitu ke India Belakang, Asia Tengah, Tiongkok, Jepang dan akhirnya sampai ke Indonesia. Ada beberapa teori dan pendapat tentang masuknya Agama Hindu ke Indonesia.
Prasasti-prasasti yang berasal dari abad ke-4 hingga abad ke-7 yang merupakan peninggalan kerajaan Kutai di Kalimantan Utara ini bisa dijadikan salah satu bukti bahwa agama Hindu sudah ada sejak abad tersebut.
Perkembangan agama Hindu di Indonesia pun sangat pesat terbukti dengan bermunculannya kerajaan yang bernafas agama Hindu. Mulai dari kerajaan Kutai di Kalimantan, kerajaan Hindu di Jawa Barat, kerajaan Hindu di Jawa Tengah, kerajaan Hindu di Jawa Timur, dan kerajaan Hindu di Bali. Agama Hindu mampu berkembang dengan pesat karena tak menghapus budaya asli Nusantara tetapi justru menjiwai sistem budaya yang telah ada, sehingga mencerminkan nilai kebenaran, kebajikan dan keindahan (Sathyam, Sivam, Sundaram).
1.2.  Rumusan Masalah
1.      Kapan agama Hindu masuk ke Indonesia?
2.      Bukti masuknya agama Hindu ke Indonesia?
3.      Siapa yang membawa agama Hindu ke Indonesia?
4.      Perkembangan agama Hindu di Indonesia?
1.2.  Tujuan
1.      Mengetahui kapan agama Hindu masuk ke Indonesia.
2.      Mendapatkan bukti masuknya agama Hindu ke Indonesia.
3.      Mengetahui siapakah yang membawa agama Hindu ke Indonesia.
4.      Memahami bagaimana perkembangan agama Hindu di Indonesia.


















BAB II
PEMBAHASAN

2.1   Masuknya Agama Hindu di Indonesia
            Masuknya agama Hindu ke Indonesia terjadi pada awal tahun Masehi, ini dapat diketahui dengan adanya bukti tertulis atau benda-benda purbakala pada abad ke 4 Masehi denngan diketemukannya tujuh buah Yupa peningalan kerajaan Kutai di Kalimantan Timur. Dari tujuh buah Yupa itu didapatkan keterangan mengenai kehidupan keagamaan pada waktu itu yang menyatakan bahwa: "Yupa itu didirikan untuk memperingati dan melaksanakan yadnya oleh Mulawarman". Keterangan yang lain menyebutkan bahwa raja Mulawarman melakukan yadnya pada suatu tempat suci untuk memuja dewa Siwa. Tempat itu disebut dengan "Vaprakeswara".
            Berikut ini beberapa teori dan pendapat mengenai masuknya agama Hindu di Indonesia:
a.      Krom (ahli - Belanda), dengan teori Waisya. Dalam bukunya yang berjudul "Hindu Javanesche Geschiedenis", menyebutkan bahwa masuknya pengaruh Hindu ke Indonesia adalah melalui penyusupan dengan jalan damai yang dilakukan oleh golongan pedagang (waisya) India.
b.      Mookerjee (ahli - India tahun 1912). Menyatakan bahwa masuknya pengaruh Hindu dari India ke Indonesia dibawa oleh para pedagang India dengan armada yang besar. Setelah sampai di Pulau Jawa (Indonesia) mereka mendirikan koloni dan membangun kota-kota sebagai tempat untuk memajukan usahanya. Dari tempat inilah mereka sering mengadakan hubungan dengan India. Kontak yang berlangsung sangat lama ini, maka terjadi penyebaran agama Hindu di Indonesia.
c.      Moens dan Bosch (ahli - Belanda). Menyatakan bahwa peranan kaum Ksatrya sangat besar pengaruhnya terhadap penyebaran agama Hindu dari India ke Indonesia. Demikian pula pengaruh kebudayaan Hindu yang dibawa oleh para para rohaniwan Hindu India ke Indonesia.
            Dalam data peninggalan sejarah disebutkan Resi Agastya adalah orang yang menyebarkan agama Hindu dari India ke Indonesia. Data ini ditemukan pada beberapa prasasti di Jawa dan lontar-lontar di Bali, yang menyatakan bahwa Sri Agastya menyebarkan agama Hindu dari India ke Indonesia, melalui sungai Gangga, Yamuna, India Selatan dan India Belakang. Oleh karena begitu besar jasa Rsi Agastya dalam penyebaran agama Hindu, maka namanya disucikan dalam prasasti-prasasti seperti:
-         Prasasti Dinoyo (Jawa Timur): Prasasti ini bertahun Caka 628, dimana seorang raja yang bernama Gajahmada membuat pura suci untuk Resi Agastya, dengan maksud memohon kekuatan suci dari Beliau.
-         Prasasti Porong (Jawa Tengah): Prasasti yang bertahun Caka 785, juga menyebutkan keagungan dan kemuliaan Rsi Agastya. Mengingat kemuliaan Rsi Agastya, maka banyak istilah yang diberikan kepada beliau, diantaranya adalah: Agastya Yatra, artinya perjalanan suci Rsi Agastya yang tidak mengenal kembali dalam pengabdiannya untuk Dharma. Pita Segara, artinya bapak dari lautan, karena mengarungi lautan-lautan luas demi untuk Dharma.
Dari prasasti-prasasti itu didapatkan keterangan yang menyebutkan bahwa "Raja Purnawarman adalah Raja Tarumanegara beragama Hindu, Beliau adalah raja yang gagah berani dan lukisan tapak kakinya disamakan dengan tapak kaki dewa Wisnu.
            Masuknya agama Hindu ke Indonesia, menimbulkan pembaharuan yang besar, misalnya berakhirnya jaman prasejarah Indonesia, perubahan dari religi kuno ke dalam kehidupan beragama yang memuja Tuhan Yang Maha Esa dengan kitab Suci Veda dan juga munculnya kerajaan yang mengatur kehidupan suatu wilayah. Disamping di Kutai (Kalimantan Timur), agama Hindu juga berkembang di Jawa Barat mulai abad ke-5 dengan diketemukannya tujuh buah prasasti, yakni prasasti Ciaruteun, Kebonkopi, Jambu, Pasir Awi, Muara Cianten, Tugu dan Lebak. Semua prasasti tersebut berbahasa Sansekerta dan memakai huruf Pallawa.
            Agama Hindu di Indonesia tidak hanya berkembang di kalangan raja tapi juga dikalangan rakyat. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya candi-candi Siwa yang tersebar hingga ke pelosok-pelosok daerah. Walaupun begitu sumber-sumber mengenai agama Hindu di Indonesia ini lebih sedikit dari agama Buddha. Sumber-sumber yang bisa dijadikan informasi yang ada hanya prasasti-prasasti dan candi-candi, misalnya prasasti dari Canggal, Ratu Baka dan Dinaya.
            Kultus lingga (simol kelamin laki-laki) bentuk pemujaan kepada Siwa ini dihubungkan dengan jabatan raja suatu dinasti yang memerintah. Begitu juga kultus Agastya (penyebar agama Siwa di India Selatan) ini juga tersebar luas. Untuk candi-candi yang patut mendapat perhatian adalah candi Prambanan, yang biasanya disebut dengan Candi Lara Jonggrang. Candi yang didirikan pada pertengahan abad ke-9 ketika kerajaan Mataram berkuasa di Jawa Tengah. Candi Lara Jonggrang ini menggambarkan Mahameru, sebuah gunung tempat kediaman dewa yang sekaligus dipakai untuk pemakaman raja yang dipandang sebagai titisan Siwa.
            Pada akhir abad ke-10 tepatnya pada tahun 929 kerajaan Hindu di Jawa Tengah mulai berpindah ke Jawa Timur, penyebabnya tak diketahui secara pasti. Kerajaan Hindu di Jawa Timur dimulai pada tahun 929 hingga awal abad ke-16. [1]

2.2 Perkembangan Agama Hindu di Indonesia
Penyebaran Hindu di Nusantara melalui proses komunikasi dan pengenalan. Agama Hindu cepat berkembang di negeri ini karena adanya persamaan unsur-unsur kesamaan antara agama Hindu dengan kepercayaan asli, misalnya:
1.      Agama Hindu menuju Brahman dan para dewa, sedangkan kepercayaan nenek moyang kita memuja para roh leluhur;
2.      Tempat pemujaan agama Hindu berupa lingga, candi, dan arca, sedangkan tempat pemujaan nenek moyang kita berupa menhir, punden berundak, tahta batu, dan patung;
3.      Upacara agama Hindu dipimpin oleh kaum Brahmana, sedangkan upacara nenek moyang kita dipimpin oleh dukun.
Untuk memahami perkembangan agama Hindu pada tahap-tahap awal di Nusantara, ada dua sumber yang dapat dijadikan acuan, yaitu prasasti dan bangunan suci. Karena kedua bukti sejarah tersebut senantiasa berkaitan dengan raja dan kerajaan, maka sejarah perkembangan agama Hindu di Nusantara tidak dapat lepas dari sejarah kerajaan Hindu. Sampai pada saat ini, prasasti pertama yang berkaitan dengan kerajaan Hindu ditemukan dalam bentuk Yupa (memakai huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta) di Kutai, kalimantan timur. Prasasti yang diperkirakan dibuat pada awal abad ke-5 tersebut, memuat silsilah raja-raja pertama Kutai beserta upacara Yadnya yang pernah dilakukan oleh Raja Mulawarman. Di Jawa Barat juga ditemukan sejumlah prasasti yang diperkirakan juga dibuat pada abad kelima sebagai peninggalan Raja Purnawarman. Dari prasasti-prasasti itu diketahui bahwa Sang Raja adalah penganut Hindu. Pada abad yang sama, di Lampung berdiri kerajaan Hindu yang bernama Tulang Bawang, dan dua abad berikutnya di Jambi berdiri kerajaan melayu. Kedua kerajaan tersebut, pada akhir abad ketujuh dikalahkan oleh kerajaan Sriwijaya yang beragama Budha.
Menurut sumber-sumber Cina, pada tahun 674 M pulau Jawa diperintah oleh sang raja perempuan yang bernama Sima. Ratu ini sangat tegas dalam melaksanakan hukum, sehingga negerinya menjadi aman. Barang-barang yang tercecer dijalan tidak ada yang berani memungut, kecuali pemiliknya. Jika ada yang mengambil milik orang lain, maka akan dihukum penggal.
Semua prasati ditemukan di Kalimantan Timur dan Jawa Barat tidak menunjukkan angka tahun yang pasti. Prasasti pertama berangka tahun adalah prasasti Canggal yang memakai tahun Candra Sangkala “Sruti Indria Rasa”, artinya tahun 654 Saka atau 732 M. Berdasarkan prasasti Canggal dan sejumlah prasasti yang ditemukan di sekitar Yogyakarta, Magelang, dan Kedu, dapat disimpulkan bahwa antara tahun 732-929 M di Jawa Tengah berdiri kerajaan Hindu yang bernama kerajaan Mataram, dengan ibu kota kerajaan bernama Medang. Prasasti-prasasti tersebut menyebut dewa-dewa Tri Murti, dengan  dewa Syiwa sebagai dewa paling utama. Dengan demikian, Hinduisme yang paling menonjol disana adalah sekte Siwa. Bukti lain yang menunjukkan bahwa dewa Siwa dipuja sebagai dewa yang paling utama adalah Candi Prambanan pada pemerintahan Rakai Pikatan dan permaisurinya Pramodhawardhani yang menempatkan candi Siwa sebagai pusat. Yang menarik dari pasangan raja dan ratu ini, Rakai Pikatan mendirikan candi-candi Hindu, sedangkan Pramodhawardhani mendirikan candi-candi Budha.
Pengaruh agama Hindu yang pertama di Jawa Timur ditemukan pada prasasti Dinoyo, dekat kota Malang berangka tahun 760 M. Prasasti ini memakai huruf Jawa Kuno berbahasa Sansekerta, menceritakan keberadaan kerajaan Kanjuruhan yang diperintah oleh Dewa Simha. Beliau tergolong raja yang sangat bijaksana, dan pemuja dewa Siwa. Raja ini mendirikan Candi Badut yang didalamnya ada patung Lingga dan patung Puntikesvara (untuk menghormati Maharsi Agastya yang selalu digambarkan sebagai Siwa dalam wujudnya sebagai Mahguru). Kerajaan Kanjuruhan selanjutnya disatukan oleh Mataram pada zaman pemerintahan Rakai Balitung. Pada tahun 929, Mpu Sindok memindahkan pusat kerajaan Mataram Jawa Tengah Ke Tawlang (Jawa Timur, Jombang) dan mendirikan Dinasti Isana.
Mpu Sindok tergolong umat Hindu yang taat dan mempunyai toleransi yang tinggi terhadap perkembangan agama Budha. Putrinya sendiri kawin dengan Lokapala yang beragama Budha. Pada masa pemerintahan Mpu Sindok berhasil disusun kitab-kitab agama-agama Hindu meliputi Buana Kosa, Buana Sanksep, Vrhraspati Tattva, sedangkan untuk agama Budha adalah Sang Hyang Kamahayanika. Berikutnya pada masa pemerintahan Darmawangsa Teguh (991-1016) disusun kitab hukum Purwadigama (bersumber pada Manava Dharmasastra) dan Siwasesana. Pada zaman itu juga dilakukan penterjemahan kitab Mahabarata dan Ramayana dari bahasa Sangsekerta ke bahasa Jawa. Tim terjemahnya dipimpin oleh Raja Dharmawangsa. Airlangga (1019-1042 M) melanjutkan Dinasti Isana sebagai pelindung agama Hindu dan Budha pada zaman pemerintahannya berhasil disusun kitab Arjuna Wiwaha Mpu Kanva (1030 M). Airlangga beragama Hindu sekte Visnu. Setelah membagi kerajaan menjadi dua, yaitu Jenggal dan Kediri, dan menyerahkan kepada kedua putranya, Airlangga lengser keprabon mandeg pandito, menjadi seorang pertapa dengan nama Rsi Gentayu.
Kediri selanjutnya berkembang menjadi besar dan berpengaruh. Agama yang dianut adalah agama Hidu sekte Visnu. Pada pemerintahan Jayawarsa (raja pertama) berhasil dibuat kekawin Ramayana. Pada pemerintahan Kameswara (1115-1130) disusun kekawin Samaranda oleh Mpu Darmaja. Pada pemerintahan Jayabaya (1130-1160) berhasil digubah kekawin Bharata Yudha oleh Mpu Sedah dan Panulu; Kisnayana, Hariwangsa, dan Gatotkacasraya oleh Mpu Panuluh; Lubdaka oleh Mpu Tanakung; dan Bhoma Kavya oleh Monaguna. Raja Jayabaya tergolong raja yang pandai meramal, yang sampai sekarang masih dipercaya. Kerajaan Kediri mengalami kehancuran pada masa pemerintahan Kertanegara (1200-1222) karena diserang oleh Ken Arok (pendiri kerajaan Singosari).
Bersamaan dengan pemerintahan Airlangga di Jawa Timur. Di Jawa Barat terdapat kerajaan Parahyangan Sunda. Rajanya bernama Sri Jayabhupati Jayamahen Wisnumurti, beragama Hindu sekte Vaisnava. Tidak ada keterangan apakah kerajaan ini merupakan keanjutan dinasti Tarumanegara atau tidak. Prasasti yang ditinggalkan hanya menyampaikan tentang pemujaan kepada Sang Hyang Bapak.
Pada zaman kerajaan Singosari, banyak didirikan candi-candi untuk pemujaan arwah-arwah raja yang sudah wafat. Yang cukup menarik, raja-raja tersebut dibuatkan dua candi (candi Hindu dan candi Buddha). Sebagai contoh, Ken Arok, yang bergelar Sri Rajasa Sang Amurwabhumi dibuatkan candi Kagenangan (dipuja sebagai titisan Siwa) dan candi Usana (dipuja sebagai Buddha). Berbeda dengan raja-raja sebelumnya, raja terakhir Singosari yaitu Kertanegara menganut agama Buddha Mahayana aliran Kalacakra. Luluhnya ajaran Hindu dan Buddha mencapai puncaknya pada masa kerajaan Majapahit (1293-1528). Kehidupan beragama berlangsung rukun dan damai antara golongan Siawa, Visnu, dan Buddha. Untuk menjalankan pemerintahan, raja didampingi oleh dua orang Dharmadyaksa, yaitu Dharmadyaksa ring Kasotan(mengurusi agama Buddha) dan Dharmadyaksa ring Kasaivan(mengurus agama Hindu). Pada masa pemerintahan raja Hayam Wuruk pernah dilakukan upacara Srada Agung yang bertujuan untuk melepaskan roh-roh orang yang telah meninggal dari segala ikatan keduniawian, sehingga bisa menyatu kembali dengan asalnya. Sebagai lambang Jasmaniah, dibuatkan sebuah boneka dari dedaunan yang disebut puspa sarira. Puspa sarira selanjutnya dibakar dan abunya dibuang ke laut. Hal ini mirip dengan upacara pangabenan di Bali.
Kemakmuran dan ketentraman Majapahit memberikan peluang berkembangnya kebudayaan, yang diwujudkan dalam bentuk candi atau karya sastra dan produk perundang-undangan. Peninggalan candi zaman Majapahit, meliputi candi Simping, candi Penataran, dan candi Rimbi. Karya sastranya meliputi:
1.      Negara Kertagama, karya Mpu Prapanca, tentang keluarga kerajaan dan kondisi masyarakat;
2.      Sutasoma, karya Mpu Tantular yang didalamnya memuat keserasian hubungan antara Hindu-Buddha lewat sesanti ­Bhineka Tunggal Ika, tan hana dharma mangrwa;
3.      Arjuna Wiwaha, didalamnya memuat ajaran kepemimpinan Panca Stiti Dharmeng Prabhu, tantu Pagelaran, Calon Arang, Bubuksah, Sundayana, Rangga Lawe, dan lainnya.
Dua kitab yang berhasil disusun  adalah kitab Kutaramanawa yang dibuat oleh Gajah Mada, mengacu pada Manadharmasastra disesuaikan dengan hukum adat yang sudah ada dan kitab Pratiguna yang mengatur tentang pertanian dan pemanfaatan tanah.
Setelah Gajah Mada dan Hayam Wuruk wafat, kerajaan Majapahit mengalami kemunduran. Sebab-sebab kemunduran Majapahit adalah:
1.      Tidak adanya kaderisasi kepemipinan, sehingga tidak ada yang mampu mnggantikan kedudukan Gajah Mada
2.      Perpecahan keluarga disusul dengan terjadinya perang Paregreg.
3.      Masuknya agama Islam.
Pada masa kejayaan Majapahit, Islam telah berkembang pesat di daerah pesisir, seperti Tuban, Gresik, Jepara, Deemak, dan lainnya. Setelah Majapahit lemah bandar-bandar Islam menyerbu Majapahit dibawah pimpinan Raden Patah (Sultan Demak). Majapahitpun runtuh, disusul dengan keruntuhan kerajaan Hindu lainnya, seperti kerajaan Pajajaran ditaklukkan oleh Kesultanan Banten, sedangkan Blambangan diserbu oleh Sultan Agung, keruntuhan-keruntuhan kerajaan Hindu di Jawa, disusul dengan terjadinya Islamisasi. Umat Hindu pun bergeser dari golongan mayoritas menjadi minoritas.
Keruntuhan kerajaan Majapahit, yang disusul dengan transformasi agama rakyat dari Hindu menjadi Islam secara umum memang berlangsung cukup mudah, karena pada zaman itu agama rakyat bergantung pada agama raja,”agama ageming aji”. Akan tetapi, banyak pula orang-orang Majapahit menolak masuk Islam, sehingga mereka terpaksa menyingkir ke Pasuruan, Penarukan, dan Bali. Sementara itu, orang-orang di Pedalaman masih tetap mempertahankan Hindu. Hal yang sama juga dialami oleh orang-orang Pajajaran yang tidak mau masuk Islam, mereka menyingkir ke daerah Pedalaman. Diantara kelompok masyarakat itu sekarang dikenal dengan orang Badui (di Banten Selatan).
Diantara orang-orang yang meninggalkan Majapahit menuju Bali adalah seorang pendeta bernama Dang Hyang Niratha. Di Bali, ia dijuluki dengan pedanda Sakti Wawu Rawuh, di Lombok dijuluki dengan Tuan Semeru, dan di Sumbawa dijuluki dengan Pangeran Sangupati. Pendeta lain yang datang ke Bali adalah Dang Hyang Astapaka. Ia adalah seorang pendeta Buddha. Kedua pendeta tersebut selanjutnya diangkat menjadi pendeta istana di kerajaan Gelgel oleh Raja Dalem Waturenggong.
Setelah zaman Waturenggong, perkembangan agama Hindu di Bali tampaknya tidak mengalami perubahan yang berarti. Apalagi setelah pemerintahan Sri Aji Dewa Agung Gede (1825-1870) yang sangat lemah, yang memberi peluang beberapa punggawa daerah untuk melepaskan diri dan membentuk kerajaan-keajaankecil. Kedatangan Belanda ikut memperkeruh sistem kemasyarakatan, sehingga catur wangsa semakin kuatmenjadi kasta ala Bali.sementaraitu, agama yang dianut orang-orang Bali pada zaman Belanda disebut agama Tirta. Pada tahun 1939 di Klungkung berdiri organisasi keagamaan bernama Tri Murti sedangkan di Singaraja berdiri perkumpulan Bali Dharma Laksana. Organisasi-organisasi tersebut bermaksud memperbaiki pelaksanaan agama melalui penerbitan buku-buku, untuk meningkatkan kualitas umat. Pada zaman Jepang didirikan Paruman Pandita Dharma yang bertujuan untuk mempersatukan berbagai paham keagamaan yang twrdapat di Bali. Pada waktu itu agama dianut oleh masyarakat Bali adalah agama Siwa Raditya atau agama Sang Hyang Surya (sesuai dengan dewa yang dipuja masyrakat Jepang).
Pada awal kemerdekaan, di Bali berdiri berbagai organisasi keagamaan yang bertujuan untuk memperjuangkan kedusukan agama Hindu agar disejajarkan kedudukannya dengan agama-agama lain di Indonesia. Pada tahun 1958 agama Hindu mendapat pangakuan resmi dari pemerintah. Setahun kemudian bediri Parisadha Dharma Hindu Bali, yang selanjutnya pada tahun 1964 diganti dengan Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI).
Pemaknaan sejarah
·         Sisi Terang
a.       Masuknya agama Hindu ke wilayah Nusantara disambut dengan hangat, karena tidak mengubah budaya asli dengan budaya India, serta tidak meninggalkan bentuk keyakinan yang sudah ada. Keadaan memungkinkan karena agama Hindu dengan tiga kerangka agamanya(filsafat, etika, dan ritual) memberikan tempat yang layak bagi berbagai bentuk keyakinan dan kelonggaran bagi umatnya untuk melaksanakan upacara keagamaan sesuai denga desa kala patra(tempat, waktu, dan keadaan).
b.      Ajaran-ajaran agama, termasuk produk perundang-undangan, tidak berpihak langsung dari sumber asli, tetapi disesuaikan dengan kondisi setempat. Dalam hal ini, substansinya dipertahankan, kemasannya disesuaikan.
c.       Hubungan antar pemeluk agama berlangsung damai dan penuh semangat toleransi. Mereka mengakui pluralisme keberagamaan dan keesaan akan kebenaran, sebagai suatu bentuk tantularisme.
d.      Dalam hal kepemimpinan negara, sejarah Hindu mewariskan budaya lengser keprabon mandeg pandita, sebagaimana yang dicontohkan oleh Prabu Airlangga, serta tida membedakan jender untuk memegang tampuk pimpinan tertinggi. Bahkan Hindu mendudukkan beberapa orang ratu yang terkenal arif dan bijaksana, misalnya Ratu Sima dan Tri Bhuana Tungga Dewi.
e.       Telah dilakukan penerjemahan kitab-kitab Itihasa (Maha Brata dan Ramayana) yang dapat dijadikan pedoman tingkah laku untuk hidup bermasyarakat, bernegara, dan beragama. Itihasa juga merupakan prasyarat yang harus dipahami sebelum mendala Veda.
f.       Umat Hindu telah memformulasi kesetiaannya terhadap agama dan negara dalam bentuk paham Dharma Agama dan Dharma Negara (Piagama Tjampuan)
·         Sisi Gelap
a.       Perkembangan Agama Hindu selalu dikaitkan dengan negara (kerajaan). Akibatnya, umat Hindu kurang mampu mandiri pada saat kerajaan tersebut runtuh, maka agama Hindu pun ikut runtuh. Hal ini juga disebabkan kurangnya pembinaan terhadap umatnya.
b.      Pengaruh adat dan kepentingan kekuasaan sangat terasa terhadap perkembangan agama Hindu. Akibatnya, terjadi penyelewengan terhadap pelakasanaan ajaran-ajaran agama. Sebagai contoh: catur warna begeser menjadi catur wangsa.
c.       Umat Hindu lebih menunjukkan sikap toleransi terhadap agama lain dibandingkan dala kelompoknya sendiri. Hal ini tampaknya diwarisi sampai sekarang.
d.      Pelaksanaan Hindu di Indonesia lebih menonjolkan ritual dan pembangunan sarana fisik peribadatan dibandingkan pengetahuan keagamaan atau spiritual. Keadaan ini menjadi salah satu sebab mudahnya umat Hindu meninggalkan agamanya.[2]






BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
            Agama Hindu masuk ke Indonesia dengan dibawa oleh Resi Agastya, orang India yang membawa agamanya ke Indonesia. Data ini ditemukan pada beberapa prasasti di Jawa dan lontar-lontar di Bali, yang menyatakan bahwa Sri Agastya menyebarkan agama Hindu dari India ke Indonesia, melalui sungai Gangga, Yamuna, India Selatan dan India Belakang. Oleh karena begitu besar jasa Rsi Agastya dalam penyebaran agama Hindu, maka namanya disucikan dalam prasasti-prasasti seperti: Prasasti Dinoyo (Jawa Timur) dan Prasasti Porong (Jawa Tengah).
     Perkembangan agama Hindu di Indonesia pun sangat pesat terbukti dengan bermunculannya kerajaan yang bernafas agama Hindu. Mulai dari kerajaan Kutai di Kalimantan, kerajaan Hindu di Jawa Barat, kerajaan Hindu di Jawa Tengah, kerajaan Hindu di Jawa Timur, dan kerajaan Hindu di Bali. Agama Hindu mampu berkembang dengan pesat karena tak menghapus budaya asli Nusantara tetapi justru menjiwai sistem budaya yang telah ada, sehingga mencerminkan nilai kebenaran, kebajikan dan keindahan (Sathyam, Sivam, Sundaram).






[1] Harun Hadiwijono, Agama Hindu dan Buddha (Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 2001), 109, 114-120, 124; http://kmhd.lk.ipb.ac.id/2010/11/06/sejarah-agama-hindu-di-indonesia/ diakses pada 04 April 2013 jam 22:43; http://www.parisada.org/index.php?option=com_content&task=view&id=37&Itemid=29 diakses pada 05 April 2013 jam 10:50.

[2] Dr. H. Moch. Qasim Mathar, M.a, Sejarah, Teologi, dan Etika Agama-Agama, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,2003), 6-16

Tidak ada komentar:

Posting Komentar