FARAVAHAR
Abstrak:
Zoroaster (660-583 SM) merupakan
agama yang diajarkan oleh Zarathustra seorang dari suku Spitama. Dasar ajaran
agama ini adalah monotheisme, yang hanya menyembah pada Tuhan yang satu yaitu
“Ahura Mazda”. Ahura Mazda Sang Terang atau dewa kebaikan disimbolkan dengan
api. Sehingga api bagi agama ini sangat disucikan dan penting. Simbol
lainnya yang menggambarkan Ahura Mazda, yang disebut faravahar, yang
memiliki sepasang sayap, ekor, dan sepasang kaki. Sosok pria berada di
tengah-tengah sepasang sayap, yang berjenggot, memakai jubah, dan memegang
sebuah cincing di tangan kirinya.
Kata kunci: Zoroaster, Ahura Mazda, api, Faravahar.
Pendahuluan
Artikel ini membahas mengenai Faravahar, sebuah simbol visual yang
ada di agama Zoroaster. Pada setiap agama pastilah mempunyai simbol yang
membedakannya dengan agama lain. Karena simbol merupakan salah satu cara untuk
menghidupkan benda-benda dan makhluk sakral yang gaib dalam pikiran dan jiwa
para pemeluk agama tersebut, meskipun kurang tepat dibandingkan dengan
cara-cara ekspresi yang lebih ilmiah. Juga sebagai identitas suatu agama dan
lambang dari agama tersebut. Biasanya simbol itu terdapat arti tersendiri yang
masih berhubungan dengan agamanya. Melalui simbol, diharapkan bisa mempererat
persatuan diantara para pemeluk agama ini di seluruh dunia dan membangkitkan
perasaan juga keterikatan yang lebih dari sekedar formulasi verbal.[1]
Tulisan
ini dimulai dengan kajian seputar Zoroaster yang meliputi Zarathustra sebagai
sang Nabi, Ahura Mazda sang Tuhan yang disimbolkan dengan api dan Faravahar.
Kemudian makna dari simbol Faravahar itu sendiri, apakah benar sebagai simbol
dari Tuhan mereka, ataukah merupakan bagian dari Fravasi (bagian dari
jiwa manusia), dan bisa jadi Faravahar ini berisi prinsip dari Zarathustra
tentang "Pikiran yang baik, Perkataan yang baik, dan Perbuatan yang Baik.”
Seperti apa yang dipaparkan diatas, artikel ini
berusaha untuk menelusuri dan menemukan dua hal pokok. Pertama, makna
sesungguhnya dari Faravahar. Kedua, apa yang sebenarnya menjadi bentuk
perwujudan dari Faravahar. Kedua hal pokok ini diupayakan untuk ditemukan
sesuai dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Zoroaster
Zoroastrianisme bedasarkan pada ajaran Zarathustra, seorang nabi
Persia yang dinegara Barat dikenal dengan Zoroaster. Mengenai kelahiran
Zarathustra ini diperkirakan pada jenjang waktu yang cukup jauh, yaitu antara
1200 dan 600 SM. Akan tetapi yang paling benar mengenai waktu hidupnya adalah
mulai dari 660-583 SM. Dari ayah: Pourushaspa dan Ibu: Dughdova. Mengenai kematiaannya itu terjadi ketika berumur 77 tahun itu disebabkan
oleh sebab-sebab ilmiah.
Zoroaster adalah seorang imam
pengajar dan ajarannya diabadikan dalam 17 puji-pujian yang disebut Gathas. Puji-pujian
itu dituangkan dalam bentuk puisi yang hanya bisa dimengerti oleh beberapa
orang tertentu sehingga membuat puisi itu sulit untuk diterjemahkan.
Puji-pujian ini berasal dari keyakinan Zoroaster yang telah bertemu Allah,
Tuhan yang bijaksana Ahura Mazda, dalam suatu penglihatan pada umur 30 tahun. Secara harfiah diterjemahkan, Ahura berarti Sang
Pencipta Tuhan, dan Mazda berarti Amat Bijaksana. Ini adalah nama yang
digunakan Zarathushtra yang ditujukan kepada Allahnya. Dia menyatakan bahwa hanya ada satu
Allah, yang adalah kekuatan kreatif dan mempertahankan tunggal alam semesta.
Zarathushtra adalah Nabi pertama yang membawa agama monoteistik. Berikut sifat-sifat dari Ahura Mazda yaitu:
·
Yang menjadika alam
·
Yang memelihara
·
Yang menjaga
·
Yang Maha Kuasa
Zarathushtra memberitahu kita bahwa Ahura Mazda
menciptakan segala sesuatu berdasarkan pada 6 Amesha Spentas, yang sebenarnya
emanasi ilahi atau aspek pencipta. Ini adalah:
1.
Vohu
Mano - Semangat Pikiran Baik
2.
Asha
- Semangat Kebenaran dan Kanan
3.
Khshatra
- Semangat kedaulatan Kudus
4.
Spenta
Armaiti - Semangat Pengabdian Kebajikan dan Cinta
5.
Haurvatat
- Semangat Kesempurnaan dan Kesejahteraan
6.
Ameretat
- Semangat Keabadian.
Menurut Zarathushtra tidak hanya alam semesta yang diciptakan atas dasar enam Amesha Spentas tersebut tetapi manusia juga.
Penganut Zoroastrianisme percaya
bahwa Ahura Mazda menciptakan dunia dan sungguh-sungguh baik terhadap manusia
seperti yang disebutkan diatas. Saudara kembarnya, Ahriman, adalah dewa
kegelapan dan kehancuran, pencipta benda mati yang menimbulkan badai, wabah
penyakit, dan monster sebagai bagian dari perjuangannya melawan saudara
kembarnya. Dualisme ini melekat dihati para penganut Zoroastrianisme.
“Sesungguhnya
ada dua roh utama, kembar yang diketahui selalu bertentangan dalam pikiran,
perkatan, dan perbuatan, mereka ada dua yang baik dan yang jahat ”(Zoroaster,
Yasna: 30-3).[2]
Pengajaran agama Zoroaster ini
sebenarnya didirikan atas faham Majusi yang telah lama, dengan memberikan
perombakan dan perubahan yang amat besar, mulai dari dasar kepercayaan sampai
kepada amal-amalnya. Berikut inti-inti dari pengajaran Zoroaster yang terletak
pada 3 perkara yaitu:
1.
Huhata (Pikiran yang baik),
2.
Hakhata (Perkataan yang baik),
3.
Huharsata (Perbuatan yang baik).[3]
Dalam agama Zoroaster Ahura Mazda
disimbolkan dengan api. Hal ini tak mungkin akan terjadi begitu saja karena sejak
zaman Iran Kuno mereka sudah melakukan persembahan kepada api. Di iran Kuno api
itu melambangkan pencahayaan ini.[4]
Sehingga tak mengherankan jika Ahura Mazda, Tuhan yang disembah agama Zoroaster
ini disimbolkan dengan api. Dikarenakan api merupakan hal yang suci, tidak
terkontaminasi dengan sesuatu apapun, serta api merupakan unsur yang
memancarkan cahaya dan menerangi semesta. Namun banyak yang salah paham dengan
api yang perwujudan dari Tuhan Yang Terang ini, mereka menganggap bahwa agama
Zoroaster ini adalah penyembah api hal ini bisa merusak paham monoteisme dari
agama tersebut. Sesungguhnya pada awal agama ini hanya mempercayai Ahura Mazda
sebagai Tuhan mereka. Namun, setelah waktu berlalu api yang awalnya hanya
dianggap sebatas isyarat menjadi Sang Pencipta itu sendiri. Hal ini jelas bahwa
Zoroaster tak begitu banyak merubah karakteristik agama yang sudah ada sejak
dahulu di Iran.
Api-api tersebut
senantiasa menyala di tungku-tungku api yang terdapat disetiap kuil
peribadatan. Dan setiap harinya api dijaga dan diurus oleh para pemimpin agama
(Magi), rohaniawan muda, juga para pendeta kuil tersebut. Tak jarang api tersebut
sangat disucikan dan dikeramatkan oleh para penganutnya. Sampai sekarang
terdapat api di kuil yang belum padam-padam selama lebih dari seribu tahun
lamanya, seperti di Bombay; karena setiap saat dijaga dan diberi kayu api oleh
pendeta-pendeta yang khusus untuk menjaga api itu.[5]
Seperti halnya
agama-agama lain, simbol yang paling terkenal dari agama Zoroaster ini adalah
Faravahar. Sebuah simbol visual yang mengungkapkan nilai-nilai, ajaran-ajaran,
serta keyakian yang ada pada agama ini agar mudah diterima oleh pengikutnya.
Sebagaimana yang saya sebutkan diatas bahwa api juga merupakan simbol yang juga
diagungkan dalam agama ini yang merupakan perwujudan dari Tuhan mereka yaitu
Ahura Mazda.
Walaupun jika
dilihat dari makna yang terdapat dari simbol faravahar ini sedikit sekali yang
menggambarkan mengenai sosok dari Ahura Mazda ataupun Ahriman. Makna yang
terdapat dalam faravahar ini hanya berupa keyakinan serta ajaran yang ada pada
agama ini. Jadi jika terlihat secara sekilas dari makna yang terkandung dalam
simbol faravahar ini menurut saya simbol ini hanyalah perwujudan dari ajaran
serta keyakinan yang terdapat dalam agama ini. Misalnya saja mengenai dualisme
yang disimbolkan dalam bentuk dua kaki serta 3 ajaran mengenai etika yang
disimbolkan dalam bentuk sayap begitu juga seterusnya.
Makna simbol Faravahar
Faravahar adalah salah satu simbol yang paling
terkenal dari agama Zoroaster ini. Yang melambangkan dewa matahari, kekuatan
ilahi, dan juga digunakan untuk memperkuat konsep dewa, raja, dan penguasa
Ilahi. Mengenai makna dari Faravahar ini masih diperdebatkan karena Zarathustra
sendiri itu menganggap bahwa Ahura Mazda itu transenden dan jika dilihat
sejarahnya mereka itu tidak artistik untuk menggambarkan sosok Ahura Mazda ini.
Faravahar juga telah
dikaitkan dengan fravashi (yang dikenal
sebagai frawahr), yang merupakan bagian dari jiwa manusia dan bertindak sebagai
pelindung. [6] Ada juga yang berpendapat bahwa Faravahar ini merupakan
prinsip Zarathustra tentang
"Pikiran yang baik, Perkataan yang
baik dan Perbuatan yang
Baik".
Berikut makna dari simbol faravahar:
1. Ini menggambarkan orang
tua yang bijaksana dan mengenai wajah Faravahar yang menyerupai manusia ini
disebabkan ada hubungannya dengan manusia yaitu jiwa manusia.
2. Ada dua
sayap di kedua sisi gambar yang mempunyai lima
lapisan bulu, yang mewakili lima gatha, lima divisi hari, dan panca indera. Sedangkan tiga bulu utama ini menunjukkan tiga simbol
dari "pikiran yang baik, perkataan yang baik, dan perbuatan yang
baik". Seperti yang terdapat
dalam Yasna yaitu pemikiran yang baik adalah sumber dari
perbuatan baik (Y 34.10)
dan kata-kata yang baik (Y 53.2).
3. Bagian
bawah Faravahar terdiri dari tiga bagian yang mewakili "pikiran yang
buruk, perkataan yang buruk dan perbuatan yang buruk" yang menyebabkan
kesengsaraan dan malapetaka bagi manusia.
4. Ada dua pita di kedua sisi Faravahar, yang mewakili
kekuatan positif dan kekuatan negatif (ajaran dualisme). Yang
pertama diarahkan wajah dan kedua terletak di bagian belakang. Hal ini juga
menunjukkan bahwa kita harus melanjutkan ke arah yang baik dan berpaling dari yang buruk.
5. Cincin
di tengah melambangkan keabadian alam semesta atau sifat kekal jiwa manusia. Diberikan
sayap untuk mewakili pencarian menuju pencerahan.
Sebagai lingkaran, yang tidak memiliki awal dan akhir. Juga merupkan simbol
keabadian roh yang dapat disimpulkan bahwa manusia lebih mencoba untuk
mempromosikan Faravahar mereka sendiri, semangat tinggi mereka akan meningkat
di dunia lain setelah mereka meninggal. Untuk alasan itu, Iran kuno tidak akan
pernah berkabung atas kematian orang yang dicintainya, karena mereka akan
percaya bahwa semangat mereka akan diangkat ke tingkat yang lebih tinggi di
dunia lainnya. Atas dasar Faravahar seseorang, setiap orang bertanggung jawab
atas nya atau
perbuatan sendiri.
6. Salah
satu tangan menunjuk ke atas yang menunjukkan bahwa hanya ada satu arah untuk
memilih dalam hidup dan yang maju serta selalu berusaha untuk perbaikan dan
berhati-hati dari kekuatan yang lebih tinggi. Sisi lain memegang cincin dan
beberapa penafsir menganggap bahwa sebagai cincin perjanjian dan digunakan
dalam upacara pernikahan yang mewakili loyalitas dan kesetiaan yang merupakan
dasar filsafat Zarathustra itu. Ini berarti ketika Iran benar memberikan janji,
itu seperti cincin dan tidak dapat dibatalkan.[7]
Dalam
Zoroastrianisme, semangat Faravahar atau manusia, mewujudkan dua indikator yang
berlawanan dari baik dan buruk. Ini jelas akan menunjukkan filosofi Zarathustra
bahwa setiap orang harus mencoba untuk mempromosikan Sepanta Minu (kekuatan positif) dan menekan
Ankareh Minu (kekuatan negatif). Sebagai hasil dari sebuah perjuangan spiritual
menuju kebaikan dan menghindari kejahatan, setiap orang akan dapat berkembang
di semua lapisan hidupnya.
Karena, cincin perjanjian yang terletak di tengah batang Faravahar adalah
simbol keabadian roh, dapat disimpulkan bahwa manusia lebih mencoba untuk
mempromosikan Faravahar mereka sendiri, lebih semangat mereka akan meningkat di
dunia lain setelah mereka meninggal. Untuk alasan itu, Iran kuno tidak akan
pernah berkabung atas kematian orang yang dicintainya, karena mereka akan
percaya bahwa semangat mereka akan diangkat ke tingkat yang lebih tinggi di
dunia lainnya. Tentu saja, ketika mereka percaya bahwa pada saat kematian,
semangat mayat akan diangkat ke tingkat yang lebih tinggi, kita harus sukacita
pada keberangkatan mereka ke dunia lain, bukannya patah hati, meskipun kerugian
mereka mungkin tertahankan bagi kita. Dengan cara ini, dalam Zoroastrianisme,
atas dasar Faravahar seseorang,
setiap orang bertanggung jawab atasnya perbuatan
sendiri. Untuk alasan ini, Cyrus Agung dan sebagian
besar raja-raja kuno lainnya di Iran, menurut dokumen sejarah, tidak pernah
memaksa siapa pun untuk dikonversi menjadi Zoroastrianisme, mereka bahkan
dihormati sistem kepercayaannya. Dalam hal ini, Piagam Hak Asasi Manusia
terhadap Cyrus Agung pada penaklukan Babel berbunyi: "Saya memerintahkan
bahwa tidak seorangpun diijinkan untuk menyalahgunakan siapa pun atau merusak
kota. Saya memerintahkan agar rumah tidak harus rusak dan properti tidak ada
yang boleh dilanggar dan dirampok. Aku memerintahkan bahwa semua orang harus menjaga
sistem kepercayaannya dan
bebas untuk beribadah sesuai dengan
kepercayaan yang dianutnya. Aku memerintahkan bahwa semua orang harus
bebas dalam pikiran mereka, memilih tempat tinggal mereka dan tidak ada yang
harus melanggar hak-hak orang lain”.[8]
Asal usul Faravahar
Sejak zaman dahulu di Mesir juga telah dikenal lambang yang serupa
dengan lambang yang ada di agama Zoroaster, lambang tersebut untuk melambangkan Sang Ilahi atau
dewa-dewa. Walaupun persamaannya hanya pada burung yang digunakan akan tetapi
dengan berjalannya waktu burung ini menjadi bentuk dari implementasi ajaran
Zoroaster. Kombinasi dari Mesopotamia dengan yang ada di Mesir ini bisa
dikatakan sebagai asal mula dari simbol Faravahar yang ada di Zoroaster.
Penggunaannya pun tak jauh beda hanya bedanya pada tidak adanya sosok manusia
seperti yang ada di simbol Zoroaster.
Pada
saat raja-raja Achaemenid (sebuah dinasti yang berkembang dari sekitar tahun 600 SM sampai dengan 330 SM), rancangan simbol yang akan menjadi
Faravahar sudah digunakan selama setidaknya 1000 tahun, dari Mesir ke Suriah
dan kemudian ke Asyur. Para Achaemenids awal menaklukkan tanah Mesopotamia pada
abad ke-6 SM, sehingga semua orang tunduk pada aturan Babilonia,
orang-orang Yahudi di antara mereka. Pada dinasti Achaemenids ini juga
mengadopsi motif Asyur dan Babel untuk seni monumental mereka.
Lambang Faravahar ini digunakan untuk
ukiran pada batu makam raja-raja Achaemenid di Bisetoon Iran yang ukiran pada setiap nisan itu berbeda satu sama lain. Terdapat satu yang sangat mirip dengan versi Asyur dengan sayap yang bergelombang. Tetapi dalam ukiran
dari Persepolis pusat dinasti Achaemenid itu Faravahar telah mencapai kesempurnaan yang paling
rumit dan halus. Faravahar yang ada di Persepolis ini adalah salah satu yang telah diadopsi oleh
Zoroastrianisme sebagai simbol mereka.
Dan ketika dinasti Achaemenid ini berakhir keberadaan Faravahar mulai
hilang dari seni Persia. Tidak
ada bukti mengenai itu dalam bidang seni setelah periode Parthia, dan itu tidak
ada dalam seni periode Sassania, kerajaan Persia yang telah bangkit
kembali dari sekitar 250-650 M. Namun, kesenian yang ada diperiode Sassania tidak menggemakan beberapa fitur individu
Faravahar. Salah satu simbol utama dari monarki Sassania dan perlindungan
ilahinya adalah bulan sabit dalam lingkaran, dengan pita streaming dari kedua sisi
Cincin yang berada di tangan Faravahar. Faravahar yang ada di Achaemenid ini masih
digunakan dalam seni Sassania untuk menggambarkan royaldiadem, yang diserahkan
ke Raja baru dengan representasi simbolis dari Ahura Mazda sendiri atau oleh
yazata (wali roh) dari Waters, Anahita. Dengan sayap yang membentang,
meskipun dalam konfigurasi yang agak berbeda, menghiasi mahkota pada sekitar abad ke 6
atau 7 kerajaan Sassania.
Setelah
penaklukan Arab, mahkota yang digunakan
para raja itu mulai menghilang meskipun
ironisnya sabit menjadi simbol utama untuk agama baru, agama Islam. Faravahar
ini pun akan tetap menjadi peninggalan kuno sampai awal
abad kedua puluh, ketika antiquarians baik Inggris dan India memberikannya
kehidupan yang lain. Pendapat ilmiah yang umum, setidaknya di Barat terdapat simbol yang mewakili Ahura Mazda.
Pada
tahun 1925 dan 1930 seorang sarjana Parsi, JM Unvala, menulis artikel yang mengidentifikasi Faravahar sebagai simbol dari semangat
fravashi atau wali pengajaran Zoroaster. Melalui pengaruh artikel Unvala, dan
kesadaran baru di antara pewaris Zoroastrianisme di Iran, faravahar mulai
digunakan sebagai simbol untuk Zoroastrianisme bukan hanya karena itu
seharusnya sebagai makna keagamaan tetapi karena simbol nasional sebagai
perangkat dari kerajaan Zoroaster yang besar. Kemudian pada awal-awal abad 20 Faravahar
mulai dimasukkan ke dalam desain dari kuil Zoroaster, publikasi, dan ornamen.
Setelah berabad-abad ketidakjelasan kini Zoroastrianisme telah memiliki simbol.
Kata
"faravahar" sebenarnya berasal dari bahasa Pahlavi atau Persia Tengah
yaitu fravarane, fravarti, fravashi fravahr, foruhar, atau faravahar
yang berarti "saya pilih". Pilihannya disini mempunyai maksud sebagai
pilihan yang baik yaitu agama Zoroaster. Apapun asal katanya, penggunaan kata faravahar untuk menggambarkan simbol agama ini. Sedangkan dalam kamus Dekhoda dan pada abad ke-17
Persia dari kamus Burhan Qati', itu muncul sebagai فروهر "furuhar". The Encyclopedia
Iranica menjadikan sebagai frawahr (ini mencerminkan Pazend
bentuk dibacheh, sesuai dengan Kitab Pahlevi pr
ʾ whr).
Seiring
dengan meluasnya penggunaan Faravahar sebagai sebagai motif heraldik dan
dekoratif telah menimbulkan banyaknya penafsiran simbol dan
komponen-komponennya yang memiliki sedikit atau tidak ada hubungannya dengan
makna sejarah yang sebenarnya dari simbol tersebut. Tak satu pun dari
interpretasi dari desain Faravahar ditemukan dalam kitab Zoroaster yang masih
ada. Tetapi imam Zoroaster dan para tetua sekarang menggunakan Faravahar sebagai alat
visual untuk menggambarkan unsur-unsur dasar dari agama, terutama ketika mereka
mengajar anak-anak.
Tak bisa dipungkiri jika Zoroaster mengadopsi lambang Faravahar ini
untuk digunakan diagamanya. Dengan sedikit penambahan serta pengurangan dan
disertai dengan pengimplementasi dari ajaran agamanya bukan untuk
mengidentifikasikan Ahura Mazda karena dalam ajaran Zoroaster Ahura Mazda ini
adalah abstrak dan transeden, jadi Tuhan tidak dapat diwakili dalam bentuk
apapun. Seperti yang terdapat dalam Gatha,
4 lagu (31), ayat 8 yaitu:
“O Mazda, ketika saya mencari Anda dengan
visi kebijaksanaan saya dan pemikiran yang baik.
Dan
menatap Anda dengan visi kebijaksanaan saya, saya menyadari.
Bahwa
Engkaulah awal dan akhir dari segalanya.
Engkau
adalah sumber kebijaksanaan dan pemikiran.
Dan
apakah engkau Engkau Pencipta nyata kebenaran dan kesalehan.
Dan
hakim yang adil dari tindakan dari semua orang.”
Dan jika dilihat secara sekilas tujuan adanya Faravahar adalah agar
para pengikutnya bisa memahami lebih mudah ajaran yang terdapat dalam agama
ini. Hal ini merupakan siasat yang tepat untuk memudahkan pengikutnya yang baru
agar lebih cepat mempelajari Zoroaster. Namun faravahar ini tak begitu
terkenal di mata para pengikutnya,
mungkin hanya sebagai sebuah simbol visual sehingga tak begitu penting bagi
mereka.
Seperti halnya keberadaan agama
Zoroaster sendiri yang hingga kini masih terdapat pengikutnya di muka bumi ini
walaupun jumlahnya hanya sedikit. Begitu juga dengan Faravahar ini dengan
berlalunya waktu Faravahar juga digunakan sebagai lambang resmi negara Iran
yang bisa ditemukan sebagai simbol dari suatu departemen atau suatu lembaga
tertentu selama beberapa tahun. Ada juga negara lain yang mengadopsi Faravahar
ini walaupun terdapat perbedaan yang mencolok. Faravahar, lambang yang hanya
sebagai simbol visual tapi tetap terjaga keberadaannya.[9]
Penutup
Agama yang lahir di negara Iran dengan nabinya yang berbanama
Zarathustra yang merupakan pembaharu di waktu itu. Dengan membawa suatu ajaran
baru namun tak melupakan yang sejak dahulu sudah ada. Melalui simbol yang
diperkenalkan oleh agama ini yang berisi ajaran agama mereka. Diharapkan dapat
membantu para pengikutnya dalam mempelajari agama mempersatukan seluruh
pengikutnya yang ada di seluruh dunia. Walaupun pada awalnya simbol ini
dianggap sebagai perwujudan dari Tuhan mereka yaitu Ahura Mazda, namun dengan
berlalunya waktu bisa ditemukan melalui makna yang terkandung disimbol ini
bahwa itu hanyalah berisi ajaran yang terdapat dalam agama ini. Karena Tuhan
mereka itu abstrak dan transeden sehingga tidak dapat dibentuk maupun
diwujudkan. Mengenai ini juga disebutkan didalam Yasna yaitu:
"... Dia yang dermawan melalui Roh-Nya yang saleh
kepada mereka yang ada. "
Y 45. 6.
kepada mereka yang ada. "
Y 45. 6.
Ahura Mazda juga disimbolkan dalam api, yang merupakan unsur yang
memancarkan cahaya, suci, menerangi semesta, dan tidak dapat terkontaminasi
dengan sesuatu apapun. Inilah yang menyebabkan Tuhan mereka disimbolkan dengan
api, bukan hanya itu saja penyebabnya pada zaman Iran Kuno mereka telah
melakukan persembahan kepada api. Sehingga ketika Zarathustra menyimbolkannya
dengan api itu menyebabkan perubahan pada sosok api itu sendiri yang awalnya
hanya sebatas sebagai isyarat berubah menjadi Sang Pencipta itu sendiri.
Zoroaster pun bergeser dari monotheisme menjadi paganisme karena hal ini.
Sedikit menyinggung mengenai faravahar yang maknanya berisi mengenai ajaran
agamanya tapi juga menyimbolkan mengenai dualisme yang diwujudkan dalam dua
pita yang terdapat di kedua sisi faravahar. Pada masa sekarang ini faravahar
digunakan untuk memudahkan dalam mengajar anak-anak.
Walau bagaimanapun kontroversi yang terdapat dalam agama ini mulai dari
keberadaan agama yang masih diperdebatkan. Juga mengenai simbol dari agama ini
yang juga menimbulkan keragu-raguan. Tapi bagaimanapun, agama ini merupakan
salah satu sejarah dunia yang pernah ada di dunia ini.
DAFTAR PUSTAKA
Keene, Michael. 2006. Agama-Agama Dunia. Yogyakarta: Kanisius.
Hakim, KH. Agus. 1996. Perbandingan Agama. Bandung: CV.
Diponegoro.
Ahmadi, Abu. 1990. Perbandingan Agama. Semarang: Rineka
Cipta.
Izvornika, Naslov.1991. Zarathustranizam. Iran: Farhang
Mehr.
Pettazoni, Raffaele. 1920. La Religione Di Zarathustra, edited
by Nicola Zanichelli. Bologna: Tipografica Mareggiani.
Brown, Robert. 1879. The Religion of Zoroaster Considered in
Connection with Archaic Monotheism, Reprinted from the Journal of the
Transactions of the Victoria Institute, or Philosophical Society of Great
Britain. London: D. Bogue.
K. Nottingham, Elizabeth. 1996. Agama dan Masyarakat. Jakarta:
PT Raja Grafindo.
[3] KH. Agus Salim, Perbandingan Agama, 22-24.
[4] Raffaele Pettazoni, La Religione Di Zarathustra, edited by
Nicola Zanichelli (Bologna: Tipografica Mareggiani, 1920),
113-142
[5] KH. Agus Hakim, Perbandingan Agama (Bandung: CV. Diponegoro,
1996), 21; Abu Ahmadi, Perbandingan Agama (Semarang: Rineka Cipta,
1990), 58-66; Naslov Izvornika, Zarathustranizam (Iran: Farhang Mehr,
1991), pp. 30-43; Robert Brown, The Religion of Zoroaster Considered in
Connection with Archaic Monotheism, Reprinted from the Journal of the
Transactions of the Victoria Institute, or Philosophical Society of Great
Britain (London: D. Bogue, 1879), 10-39.
[6] http://altreligion.about.com/od/symbols/a/faravahar.htm , di unduh pada jam 14:00 WIB tanggal 21 November 2012.
[7] http://www.iransara.info/Iran Faravahar Zartosht Farvahar
fravahar.htm ,
di unduh pada jam 14:00 WIB tanggal 21 November 2012; http://altreligion.about.com/od/symbols/a/faravahar.htm , di unduh pada jam 14:00 WIB tanggal 21 November 2012; http://www.crystalinks.com/faravahar.html , di unduh pada jam 14:00 WIB tanggal 21 November 2012; http://religion.indianetzone.com/1/concept_faravahar.htm , di unduh pada jam 14:00 WIB tanggal 21 November 2012; http://worldhistory1a.homestead.com/zarathustra.html diunduh pada jam14:18 WIB tanggal 28 November 2012.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar