Kamis, 04 Juli 2013

Artikel



FARAVAHAR 

Abstrak: Zoroaster (660-583 SM) merupakan agama yang diajarkan oleh Zarathustra seorang dari suku Spitama. Dasar ajaran agama ini adalah monotheisme, yang hanya menyembah pada Tuhan yang satu yaitu “Ahura Mazda”. Ahura Mazda Sang Terang atau dewa kebaikan disimbolkan dengan api. Sehingga api bagi agama ini sangat disucikan dan penting. Simbol lainnya yang menggambarkan Ahura Mazda, yang disebut faravahar, yang memiliki sepasang sayap, ekor, dan sepasang kaki. Sosok pria berada di tengah-tengah sepasang sayap, yang berjenggot, memakai jubah, dan memegang sebuah cincing di tangan kirinya.
Kata kunci: Zoroaster, Ahura Mazda, api, Faravahar.

Pendahuluan
Artikel ini membahas mengenai Faravahar, sebuah simbol visual yang ada di agama Zoroaster. Pada setiap agama pastilah mempunyai simbol yang membedakannya dengan agama lain. Karena simbol merupakan salah satu cara untuk menghidupkan benda-benda dan makhluk sakral yang gaib dalam pikiran dan jiwa para pemeluk agama tersebut, meskipun kurang tepat dibandingkan dengan cara-cara ekspresi yang lebih ilmiah. Juga sebagai identitas suatu agama dan lambang dari agama tersebut. Biasanya simbol itu terdapat arti tersendiri yang masih berhubungan dengan agamanya. Melalui simbol, diharapkan bisa mempererat persatuan diantara para pemeluk agama ini di seluruh dunia dan membangkitkan perasaan juga keterikatan yang lebih dari sekedar formulasi verbal.[1]
Tulisan ini dimulai dengan kajian seputar Zoroaster yang meliputi Zarathustra sebagai sang Nabi, Ahura Mazda sang Tuhan yang disimbolkan dengan api dan Faravahar. Kemudian makna dari simbol Faravahar itu sendiri, apakah benar sebagai simbol dari Tuhan mereka, ataukah merupakan bagian dari Fravasi (bagian dari jiwa manusia), dan bisa jadi Faravahar ini berisi prinsip dari Zarathustra tentang "Pikiran yang baik, Perkataan yang baik, dan Perbuatan yang Baik.”
Seperti apa yang dipaparkan diatas, artikel ini berusaha untuk menelusuri dan menemukan dua hal pokok. Pertama, makna sesungguhnya dari Faravahar. Kedua, apa yang sebenarnya menjadi bentuk perwujudan dari Faravahar. Kedua hal pokok ini diupayakan untuk ditemukan sesuai dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Zoroaster
Zoroastrianisme bedasarkan pada ajaran Zarathustra, seorang nabi Persia yang dinegara Barat dikenal dengan Zoroaster. Mengenai kelahiran Zarathustra ini diperkirakan pada jenjang waktu yang cukup jauh, yaitu antara 1200 dan 600 SM. Akan tetapi yang paling benar mengenai waktu hidupnya adalah mulai dari 660-583 SM. Dari ayah: Pourushaspa dan Ibu: Dughdova. Mengenai kematiaannya itu terjadi ketika berumur 77 tahun itu disebabkan oleh sebab-sebab ilmiah.
Zoroaster adalah seorang imam pengajar dan ajarannya diabadikan dalam 17 puji-pujian yang disebut Gathas. Puji-pujian itu dituangkan dalam bentuk puisi yang hanya bisa dimengerti oleh beberapa orang tertentu sehingga membuat puisi itu sulit untuk diterjemahkan. Puji-pujian ini berasal dari keyakinan Zoroaster yang telah bertemu Allah, Tuhan yang bijaksana Ahura Mazda, dalam suatu penglihatan pada umur 30 tahun. Secara harfiah diterjemahkan, Ahura berarti Sang Pencipta Tuhan, dan Mazda berarti Amat Bijaksana. Ini adalah nama yang digunakan Zarathushtra yang ditujukan kepada Allahnya. Dia menyatakan bahwa hanya ada satu Allah, yang adalah kekuatan kreatif dan mempertahankan tunggal alam semesta. Zarathushtra adalah Nabi pertama yang membawa agama monoteistik. Berikut sifat-sifat dari Ahura Mazda yaitu:
·         Yang menjadika alam
·         Yang memelihara
·         Yang menjaga
·         Yang Maha Kuasa
Zarathushtra memberitahu kita bahwa Ahura Mazda menciptakan segala sesuatu berdasarkan pada 6 Amesha Spentas, yang sebenarnya emanasi ilahi atau aspek pencipta. Ini adalah:
1.      Vohu Mano - Semangat Pikiran Baik
2.      Asha - Semangat Kebenaran dan Kanan
3.      Khshatra - Semangat kedaulatan Kudus
4.      Spenta Armaiti - Semangat Pengabdian Kebajikan dan Cinta
5.      Haurvatat - Semangat Kesempurnaan dan Kesejahteraan
6.      Ameretat - Semangat Keabadian.
Menurut Zarathushtra tidak hanya alam semesta yang diciptakan atas dasar enam Amesha Spentas tersebut tetapi manusia juga.
Penganut Zoroastrianisme percaya bahwa Ahura Mazda menciptakan dunia dan sungguh-sungguh baik terhadap manusia seperti yang disebutkan diatas. Saudara kembarnya, Ahriman, adalah dewa kegelapan dan kehancuran, pencipta benda mati yang menimbulkan badai, wabah penyakit, dan monster sebagai bagian dari perjuangannya melawan saudara kembarnya. Dualisme ini melekat dihati para penganut Zoroastrianisme.
“Sesungguhnya ada dua roh utama, kembar yang diketahui selalu bertentangan dalam pikiran, perkatan, dan perbuatan, mereka ada dua yang baik dan yang jahat ”(Zoroaster, Yasna: 30-3).[2]
Pengajaran agama Zoroaster ini sebenarnya didirikan atas faham Majusi yang telah lama, dengan memberikan perombakan dan perubahan yang amat besar, mulai dari dasar kepercayaan sampai kepada amal-amalnya. Berikut inti-inti dari pengajaran Zoroaster yang terletak pada 3 perkara yaitu:
1.      Huhata (Pikiran yang baik),
2.      Hakhata (Perkataan yang baik),
3.      Huharsata (Perbuatan yang baik).[3]
Dalam agama Zoroaster Ahura Mazda disimbolkan dengan api. Hal ini tak mungkin akan terjadi begitu saja karena sejak zaman Iran Kuno mereka sudah melakukan persembahan kepada api. Di iran Kuno api itu melambangkan pencahayaan ini.[4] Sehingga tak mengherankan jika Ahura Mazda, Tuhan yang disembah agama Zoroaster ini disimbolkan dengan api. Dikarenakan api merupakan hal yang suci, tidak terkontaminasi dengan sesuatu apapun, serta api merupakan unsur yang memancarkan cahaya dan menerangi semesta. Namun banyak yang salah paham dengan api yang perwujudan dari Tuhan Yang Terang ini, mereka menganggap bahwa agama Zoroaster ini adalah penyembah api hal ini bisa merusak paham monoteisme dari agama tersebut. Sesungguhnya pada awal agama ini hanya mempercayai Ahura Mazda sebagai Tuhan mereka. Namun, setelah waktu berlalu api yang awalnya hanya dianggap sebatas isyarat menjadi Sang Pencipta itu sendiri. Hal ini jelas bahwa Zoroaster tak begitu banyak merubah karakteristik agama yang sudah ada sejak dahulu di Iran.
            Api-api tersebut senantiasa menyala di tungku-tungku api yang terdapat disetiap kuil peribadatan. Dan setiap harinya api dijaga dan diurus oleh para pemimpin agama (Magi), rohaniawan muda, juga para pendeta kuil tersebut. Tak jarang api tersebut sangat disucikan dan dikeramatkan oleh para penganutnya. Sampai sekarang terdapat api di kuil yang belum padam-padam selama lebih dari seribu tahun lamanya, seperti di Bombay; karena setiap saat dijaga dan diberi kayu api oleh pendeta-pendeta yang khusus untuk menjaga api itu.[5]
            Seperti halnya agama-agama lain, simbol yang paling terkenal dari agama Zoroaster ini adalah Faravahar. Sebuah simbol visual yang mengungkapkan nilai-nilai, ajaran-ajaran, serta keyakian yang ada pada agama ini agar mudah diterima oleh pengikutnya. Sebagaimana yang saya sebutkan diatas bahwa api juga merupakan simbol yang juga diagungkan dalam agama ini yang merupakan perwujudan dari Tuhan mereka yaitu Ahura Mazda.
            Walaupun jika dilihat dari makna yang terdapat dari simbol faravahar ini sedikit sekali yang menggambarkan mengenai sosok dari Ahura Mazda ataupun Ahriman. Makna yang terdapat dalam faravahar ini hanya berupa keyakinan serta ajaran yang ada pada agama ini. Jadi jika terlihat secara sekilas dari makna yang terkandung dalam simbol faravahar ini menurut saya simbol ini hanyalah perwujudan dari ajaran serta keyakinan yang terdapat dalam agama ini. Misalnya saja mengenai dualisme yang disimbolkan dalam bentuk dua kaki serta 3 ajaran mengenai etika yang disimbolkan dalam bentuk sayap begitu juga seterusnya.
Makna simbol Faravahar
Faravahar adalah salah satu simbol yang paling terkenal dari agama Zoroaster ini. Yang melambangkan dewa matahari, kekuatan ilahi, dan juga digunakan untuk memperkuat konsep dewa, raja, dan penguasa Ilahi. Mengenai makna dari Faravahar ini masih diperdebatkan karena Zarathustra sendiri itu menganggap bahwa Ahura Mazda itu transenden dan jika dilihat sejarahnya mereka itu tidak artistik untuk menggambarkan sosok Ahura Mazda ini. Faravahar juga telah dikaitkan dengan fravashi (yang dikenal sebagai frawahr), yang merupakan bagian dari jiwa manusia dan bertindak sebagai pelindung. [6] Ada juga yang berpendapat bahwa Faravahar ini merupakan prinsip Zarathustra tentang "Pikiran yang baik, Perkataan yang baik dan Perbuatan yang Baik".
Berikut makna dari simbol faravahar:
1.      Ini menggambarkan orang tua yang bijaksana dan mengenai wajah Faravahar yang menyerupai manusia ini disebabkan ada hubungannya dengan manusia yaitu jiwa manusia.
2.      Ada dua sayap di kedua sisi gambar yang mempunyai lima lapisan bulu, yang mewakili lima gatha, lima divisi hari, dan panca indera. Sedangkan tiga bulu utama ini menunjukkan tiga simbol dari "pikiran yang baik, perkataan yang baik, dan perbuatan yang baik". Seperti yang terdapat dalam Yasna yaitu pemikiran yang baik adalah sumber dari perbuatan baik (Y 34.10) dan kata-kata yang baik (Y 53.2).
3.      Bagian bawah Faravahar terdiri dari tiga bagian yang mewakili "pikiran yang buruk, perkataan yang buruk dan perbuatan yang buruk" yang menyebabkan kesengsaraan dan malapetaka bagi manusia.
4.      Ada dua pita di kedua sisi Faravahar, yang mewakili kekuatan positif dan kekuatan negatif (ajaran dualisme). Yang pertama diarahkan wajah dan kedua terletak di bagian belakang. Hal ini juga menunjukkan bahwa kita harus melanjutkan ke arah yang baik dan berpaling dari yang buruk.
5.      Cincin di tengah melambangkan keabadian alam semesta atau sifat kekal jiwa manusia. Diberikan sayap untuk mewakili pencarian menuju pencerahan. Sebagai lingkaran, yang tidak memiliki awal dan akhir. Juga merupkan simbol keabadian roh yang dapat disimpulkan bahwa manusia lebih mencoba untuk mempromosikan Faravahar mereka sendiri, semangat tinggi mereka akan meningkat di dunia lain setelah mereka meninggal. Untuk alasan itu, Iran kuno tidak akan pernah berkabung atas kematian orang yang dicintainya, karena mereka akan percaya bahwa semangat mereka akan diangkat ke tingkat yang lebih tinggi di dunia lainnya. Atas dasar Faravahar seseorang, setiap orang bertanggung jawab atas nya atau perbuatan sendiri.
6.      Salah satu tangan menunjuk ke atas yang menunjukkan bahwa hanya ada satu arah untuk memilih dalam hidup dan yang maju serta selalu berusaha untuk perbaikan dan berhati-hati dari kekuatan yang lebih tinggi. Sisi lain memegang cincin dan beberapa penafsir menganggap bahwa sebagai cincin perjanjian dan digunakan dalam upacara pernikahan yang mewakili loyalitas dan kesetiaan yang merupakan dasar filsafat Zarathustra itu. Ini berarti ketika Iran benar memberikan janji, itu seperti cincin dan tidak dapat dibatalkan.[7]
Dalam Zoroastrianisme, semangat Faravahar atau manusia, mewujudkan dua indikator yang berlawanan dari baik dan buruk. Ini jelas akan menunjukkan filosofi Zarathustra bahwa setiap orang harus mencoba untuk mempromosikan Sepanta Minu (kekuatan positif) dan menekan Ankareh Minu (kekuatan negatif). Sebagai hasil dari sebuah perjuangan spiritual menuju kebaikan dan menghindari kejahatan, setiap orang akan dapat berkembang di semua lapisan hidupnya. Karena, cincin perjanjian yang terletak di tengah batang Faravahar adalah simbol keabadian roh, dapat disimpulkan bahwa manusia lebih mencoba untuk mempromosikan Faravahar mereka sendiri, lebih semangat mereka akan meningkat di dunia lain setelah mereka meninggal. Untuk alasan itu, Iran kuno tidak akan pernah berkabung atas kematian orang yang dicintainya, karena mereka akan percaya bahwa semangat mereka akan diangkat ke tingkat yang lebih tinggi di dunia lainnya. Tentu saja, ketika mereka percaya bahwa pada saat kematian, semangat mayat akan diangkat ke tingkat yang lebih tinggi, kita harus sukacita pada keberangkatan mereka ke dunia lain, bukannya patah hati, meskipun kerugian mereka mungkin tertahankan bagi kita. Dengan cara ini, dalam Zoroastrianisme, atas dasar Faravahar seseorang, setiap orang bertanggung jawab atasnya perbuatan sendiri. Untuk alasan ini, Cyrus Agung dan sebagian besar raja-raja kuno lainnya di Iran, menurut dokumen sejarah, tidak pernah memaksa siapa pun untuk dikonversi menjadi Zoroastrianisme, mereka bahkan dihormati sistem kepercayaannya. Dalam hal ini, Piagam Hak Asasi Manusia terhadap Cyrus Agung pada penaklukan Babel berbunyi: "Saya memerintahkan bahwa tidak seorangpun diijinkan untuk menyalahgunakan siapa pun atau merusak kota. Saya memerintahkan agar rumah tidak harus rusak dan properti tidak ada yang boleh dilanggar dan dirampok. Aku memerintahkan bahwa semua orang harus menjaga sistem kepercayaannya dan bebas untuk beribadah sesuai dengan kepercayaan yang dianutnya. Aku memerintahkan bahwa semua orang harus bebas dalam pikiran mereka, memilih tempat tinggal mereka dan tidak ada yang harus melanggar hak-hak orang lain.[8]
Asal usul Faravahar
Sejak zaman dahulu di Mesir juga telah dikenal lambang yang serupa dengan lambang yang ada di agama Zoroaster, lambang  tersebut untuk melambangkan Sang Ilahi atau dewa-dewa. Walaupun persamaannya hanya pada burung yang digunakan akan tetapi dengan berjalannya waktu burung ini menjadi bentuk dari implementasi ajaran Zoroaster. Kombinasi dari Mesopotamia dengan yang ada di Mesir ini bisa dikatakan sebagai asal mula dari simbol Faravahar yang ada di Zoroaster. Penggunaannya pun tak jauh beda hanya bedanya pada tidak adanya sosok manusia seperti yang ada di simbol Zoroaster.
Pada saat raja-raja Achaemenid (sebuah dinasti yang berkembang dari sekitar tahun 600 SM sampai dengan 330 SM), rancangan simbol yang akan menjadi Faravahar sudah digunakan selama setidaknya 1000 tahun, dari Mesir ke Suriah dan kemudian ke Asyur. Para Achaemenids awal menaklukkan tanah Mesopotamia pada abad ke-6 SM, sehingga semua orang tunduk pada aturan Babilonia, orang-orang Yahudi di antara mereka. Pada dinasti Achaemenids ini  juga mengadopsi motif Asyur dan Babel untuk seni monumental mereka.
Lambang Faravahar ini digunakan untuk ukiran pada batu makam raja-raja Achaemenid di Bisetoon Iran yang ukiran pada setiap nisan itu berbeda satu sama lain. Terdapat satu yang sangat mirip dengan versi Asyur dengan sayap yang bergelombang. Tetapi dalam ukiran dari Persepolis pusat dinasti Achaemenid itu Faravahar telah mencapai kesempurnaan yang paling rumit dan halus. Faravahar yang ada di Persepolis ini adalah salah satu yang telah diadopsi oleh Zoroastrianisme sebagai simbol mereka.
Dan ketika dinasti Achaemenid ini berakhir keberadaan Faravahar mulai hilang dari seni Persia. Tidak ada bukti mengenai itu dalam bidang seni setelah periode Parthia, dan itu tidak ada dalam seni periode Sassania, kerajaan Persia yang telah bangkit kembali dari sekitar 250-650 M. Namun, kesenian yang ada diperiode Sassania tidak menggemakan beberapa fitur individu Faravahar. Salah satu simbol utama dari monarki Sassania dan perlindungan ilahinya adalah bulan sabit dalam lingkaran, dengan pita streaming dari kedua sisi Cincin yang berada di tangan Faravahar. Faravahar yang ada di Achaemenid ini masih digunakan dalam seni Sassania untuk menggambarkan royaldiadem, yang diserahkan ke Raja baru dengan representasi simbolis dari Ahura Mazda sendiri atau oleh yazata (wali roh) dari Waters, Anahita. Dengan sayap yang membentang, meskipun dalam konfigurasi yang agak berbeda, menghiasi mahkota pada sekitar abad ke 6 atau 7 kerajaan Sassania.
Setelah penaklukan Arab, mahkota yang digunakan para raja itu mulai menghilang meskipun ironisnya sabit menjadi simbol utama untuk agama baru, agama Islam. Faravahar ini pun akan tetap menjadi peninggalan kuno sampai awal abad kedua puluh, ketika antiquarians baik Inggris dan India memberikannya kehidupan yang lain. Pendapat ilmiah yang umum, setidaknya di Barat terdapat simbol yang mewakili Ahura Mazda.
Pada tahun 1925 dan 1930 seorang sarjana Parsi, JM Unvala, menulis artikel yang mengidentifikasi Faravahar sebagai simbol dari semangat fravashi atau wali pengajaran Zoroaster. Melalui pengaruh artikel Unvala, dan kesadaran baru di antara pewaris Zoroastrianisme di Iran, faravahar mulai digunakan sebagai simbol untuk Zoroastrianisme bukan hanya karena itu seharusnya sebagai makna keagamaan tetapi karena simbol nasional sebagai perangkat dari kerajaan Zoroaster yang besar. Kemudian pada awal-awal abad 20 Faravahar mulai dimasukkan ke dalam desain dari kuil Zoroaster, publikasi, dan ornamen. Setelah berabad-abad ketidakjelasan kini Zoroastrianisme telah memiliki simbol.
Kata "faravahar" sebenarnya berasal dari bahasa Pahlavi atau Persia Tengah yaitu fravarane, fravarti, fravashi fravahr, foruhar, atau faravahar yang berarti "saya pilih". Pilihannya disini mempunyai maksud sebagai pilihan yang baik yaitu agama Zoroaster. Apapun asal katanya, penggunaan kata faravahar untuk menggambarkan simbol agama ini. Sedangkan dalam kamus Dekhoda dan pada abad ke-17 Persia dari kamus Burhan Qati', itu muncul sebagai فروهر "furuhar". The Encyclopedia Iranica menjadikan sebagai frawahr (ini mencerminkan Pazend bentuk dibacheh, sesuai dengan Kitab Pahlevi pr ʾ whr).
Seiring dengan meluasnya penggunaan Faravahar sebagai sebagai motif heraldik dan dekoratif telah menimbulkan banyaknya penafsiran simbol dan komponen-komponennya yang memiliki sedikit atau tidak ada hubungannya dengan makna sejarah yang sebenarnya dari simbol tersebut. Tak satu pun dari interpretasi dari desain Faravahar ditemukan dalam kitab Zoroaster yang masih ada. Tetapi imam Zoroaster dan para tetua sekarang menggunakan Faravahar sebagai alat visual untuk menggambarkan unsur-unsur dasar dari agama, terutama ketika mereka mengajar anak-anak.
Tak bisa dipungkiri jika Zoroaster mengadopsi lambang Faravahar ini untuk digunakan diagamanya. Dengan sedikit penambahan serta pengurangan dan disertai dengan pengimplementasi dari ajaran agamanya bukan untuk mengidentifikasikan Ahura Mazda karena dalam ajaran Zoroaster Ahura Mazda ini adalah abstrak dan transeden, jadi Tuhan tidak dapat diwakili dalam bentuk apapun. Seperti yang terdapat dalam Gatha, 4 lagu (31), ayat 8 yaitu:
O Mazda, ketika saya mencari Anda dengan visi kebijaksanaan saya dan pemikiran yang baik.
Dan menatap Anda dengan visi kebijaksanaan saya, saya menyadari.
Bahwa Engkaulah awal dan akhir dari segalanya.
Engkau adalah sumber kebijaksanaan dan pemikiran.
Dan apakah engkau Engkau Pencipta nyata kebenaran dan kesalehan.
Dan hakim yang adil dari tindakan dari semua orang.
Dan jika dilihat secara sekilas tujuan adanya Faravahar adalah agar para pengikutnya bisa memahami lebih mudah ajaran yang terdapat dalam agama ini. Hal ini merupakan siasat yang tepat untuk memudahkan pengikutnya yang baru agar lebih cepat mempelajari Zoroaster. Namun faravahar ini tak begitu terkenal  di mata para pengikutnya, mungkin hanya sebagai sebuah simbol visual sehingga tak begitu penting bagi mereka.
Seperti halnya keberadaan agama Zoroaster sendiri yang hingga kini masih terdapat pengikutnya di muka bumi ini walaupun jumlahnya hanya sedikit. Begitu juga dengan Faravahar ini dengan berlalunya waktu Faravahar juga digunakan sebagai lambang resmi negara Iran yang bisa ditemukan sebagai simbol dari suatu departemen atau suatu lembaga tertentu selama beberapa tahun. Ada juga negara lain yang mengadopsi Faravahar ini walaupun terdapat perbedaan yang mencolok. Faravahar, lambang yang hanya sebagai simbol visual tapi tetap terjaga keberadaannya.[9]
Penutup
Agama yang lahir di negara Iran dengan nabinya yang berbanama Zarathustra yang merupakan pembaharu di waktu itu. Dengan membawa suatu ajaran baru namun tak melupakan yang sejak dahulu sudah ada. Melalui simbol yang diperkenalkan oleh agama ini yang berisi ajaran agama mereka. Diharapkan dapat membantu para pengikutnya dalam mempelajari agama mempersatukan seluruh pengikutnya yang ada di seluruh dunia. Walaupun pada awalnya simbol ini dianggap sebagai perwujudan dari Tuhan mereka yaitu Ahura Mazda, namun dengan berlalunya waktu bisa ditemukan melalui makna yang terkandung disimbol ini bahwa itu hanyalah berisi ajaran yang terdapat dalam agama ini. Karena Tuhan mereka itu abstrak dan transeden sehingga tidak dapat dibentuk maupun diwujudkan. Mengenai ini juga disebutkan didalam Yasna yaitu:
"... Dia yang dermawan melalui Roh-Nya yang saleh
kepada mereka yang ada. "
Y
45. 6.
Ahura Mazda juga disimbolkan dalam api, yang merupakan unsur yang memancarkan cahaya, suci, menerangi semesta, dan tidak dapat terkontaminasi dengan sesuatu apapun. Inilah yang menyebabkan Tuhan mereka disimbolkan dengan api, bukan hanya itu saja penyebabnya pada zaman Iran Kuno mereka telah melakukan persembahan kepada api. Sehingga ketika Zarathustra menyimbolkannya dengan api itu menyebabkan perubahan pada sosok api itu sendiri yang awalnya hanya sebatas sebagai isyarat berubah menjadi Sang Pencipta itu sendiri. Zoroaster pun bergeser dari monotheisme menjadi paganisme karena hal ini.
Sedikit menyinggung mengenai faravahar yang maknanya berisi mengenai ajaran agamanya tapi juga menyimbolkan mengenai dualisme yang diwujudkan dalam dua pita yang terdapat di kedua sisi faravahar. Pada masa sekarang ini faravahar digunakan untuk memudahkan dalam mengajar anak-anak.
Walau bagaimanapun kontroversi yang terdapat dalam agama ini mulai dari keberadaan agama yang masih diperdebatkan. Juga mengenai simbol dari agama ini yang juga menimbulkan keragu-raguan. Tapi bagaimanapun, agama ini merupakan salah satu sejarah dunia yang pernah ada di dunia ini.









DAFTAR PUSTAKA

Keene, Michael. 2006. Agama-Agama Dunia. Yogyakarta: Kanisius.
Hakim, KH. Agus. 1996. Perbandingan Agama. Bandung: CV. Diponegoro.
Ahmadi, Abu. 1990. Perbandingan Agama. Semarang: Rineka Cipta.
Izvornika, Naslov.1991. Zarathustranizam. Iran: Farhang Mehr.
Pettazoni, Raffaele. 1920. La Religione Di Zarathustra, edited by Nicola Zanichelli. Bologna: Tipografica Mareggiani.
Brown, Robert. 1879. The Religion of Zoroaster Considered in Connection with Archaic Monotheism, Reprinted from the Journal of the Transactions of the Victoria Institute, or Philosophical Society of Great Britain. London: D. Bogue.
K. Nottingham, Elizabeth. 1996. Agama dan Masyarakat. Jakarta: PT Raja Grafindo.



[1] Elizabeth K. Nottingham, Agama dan Masyarakat (Jakarta: PT Raja Grafindo, 1996), 16-17.
[2] Michael Keene, agama-agama dunia (Yogyakarta: Kanius, 2006), 174.
[3] KH. Agus Salim, Perbandingan Agama, 22-24.
[4] Raffaele Pettazoni, La Religione Di Zarathustra, edited by Nicola Zanichelli (Bologna: Tipografica Mareggiani, 1920), 113-142
[5] KH. Agus Hakim, Perbandingan Agama (Bandung: CV. Diponegoro, 1996), 21; Abu Ahmadi, Perbandingan Agama (Semarang: Rineka Cipta, 1990), 58-66; Naslov Izvornika, Zarathustranizam (Iran: Farhang Mehr, 1991), pp. 30-43; Robert Brown, The Religion of Zoroaster Considered in Connection with Archaic Monotheism, Reprinted from the Journal of the Transactions of the Victoria Institute, or Philosophical Society of Great Britain (London: D. Bogue, 1879), 10-39.
[6] http://altreligion.about.com/od/symbols/a/faravahar.htm , di unduh pada jam 14:00 WIB tanggal 21 November 2012.
[7] http://www.iransara.info/Iran Faravahar Zartosht Farvahar fravahar.htm , di unduh pada jam 14:00 WIB tanggal 21 November 2012; http://altreligion.about.com/od/symbols/a/faravahar.htm , di unduh pada jam 14:00 WIB tanggal 21 November 2012; http://www.crystalinks.com/faravahar.html , di unduh pada jam 14:00 WIB tanggal 21 November 2012; http://religion.indianetzone.com/1/concept_faravahar.htm , di unduh pada jam 14:00 WIB tanggal 21 November 2012; http://worldhistory1a.homestead.com/zarathustra.html  diunduh pada jam14:18 WIB tanggal 28 November 2012.

[9] http://www.crystalinks.com/faravahar.html di unduh pada jam 14:00 WIB tanggal 21 November 2012.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar